Minggu pagi dikaki Merapi

Seingatku, sejak akhir tahun 2011. Akhirnya aku diterima menjadi pengajar Gadjah Mada Mengajar.

Pengajar IPA untuk anak anak SD di sebuah dusun bernama dusun Gondang, Cangkringan, Sleman. Sebuah shelter sementara untuk anak anak korban bencana meletusnya gunung merapi. Komplekr rumah itnggal yang terbuat dari bambu dan sederhana. Sekitar 20 Km dari kampus UGM. Sebuah minggu pagi yang bahagia kuingat. Sekitar jam 07.00 pagi aku harus bersiap siap untuk melanjutkan aktivitas. Baju rapi dan tak lupa memanaskan sepeda motor. Bergegas khawatir mereka sudah menunggu. Perjalanan dari kosan ke Gondang sekitar 40 menit. Mereka para anak anak yang tinggal sementara di shelter Gondang 2 setiap minggu pagi belajar IPA bersama kami. Ada beberapa orang yang bertugas, tapi hanya beberapa yang benar datang dan mengajar. Mereka adalah anak siswa siswi SD kelas 1- 6.

Minggu pagi yang kulewatkan dengan lupa sarapan. Karena memang aku tak sempat sarapan. Meninkati embun bekas transpirasi daun tadi malam. Melewati jalanan raya yang penuh dan kadang sesak karena ada pasar dadakan. Atau beberapa temapt malah sepi tak ada yang lewat. Atau kdang kulihat beberapa pesepeda yang semangat mengayuh pedal. Minggu pagi yang kurindukan. Terkadang aku sering salah jalan, salah gang, atau salah tempat. Karena kemampuanku untuk mengingat jalan yang agak lemah. Melewati jalan yang bergelombang tajam, kelok kelok, dan fase sebuah hutan bambu yang sedikit membuatku merinding sendirian melintasinya. Beruntungnya seringkali ata truk truk besar yang berpapasan untuk membawa material pembangunan rumah.

Minggu pagi yang indah dan berbahagia. Saat merlihat mereka menunggu dengan lekat. Beberapa sudah duduk di depan rumah. Beberapa sudah mulai belajar. Mengajari mereka hal sederhana dan singkat. Fisika, kimia, dan bioogi untuk sekolah dasar. Atau kadang tentang matematika dan menggambar sebagai hiburan. Menjawab soal yang dibuat oleh beberapa teman. Bagiku mereka adalah pelapas penatku, penghiburku, dan membuatku sejuk setiap minggu. Bahagia yang tak tergantikan. Ada Tiara siswi kelas 3 yang pandai dan cerdas, ada wildan yang kreatif dan pendiam. Semua anak anak itu akan lekat dalam ingatan. Mereka yang membahagiakan.

Pagi, terkadang aku menjemput seorang anak yang berada jauh dari tempat kami belajar. Bertemu dengan ibunya, bertemu juga dengan adik kecilnya yang menggemaskan. Anak kelas 4 SD itu punya 3 orang adik. Lucu. Bahagia. Damai. Saat mereka merasa lelah, kita suka membeli cilok dengan saos abal abal dan potongan buah melon yang tidak ada rasanya bercampur dengan air gula. Tapi bagiku, bagi kita itu nikmat tiada tara. Rasa biasa yang menjadi istimewa karena kita bahagia. Penjual yang selalu tahu dan berhenti di depan gubuk kami.

Anak laki laki yang nakal dan cerdas. Mereka sangat susah diatur. Berlari dari ruang keruang. Menaiki dinding rumah yang sudah rapuh. Entah bagiamana mereka terlalu aktif dan sering kali membuatku kewalahan. Tapi itu membuatku belajar banyak.

Jujur, aku rindu. Sangat rindu. kira kira 6 bulan berjalan. Setelah hampir satu tahun berlalu. Aku memikirkan mereka, aku rindu mereka. Dan sekarang, mereka semua telah berpencar. Mendiami rumah rumah yang telah dibuatkan pemerintah buat mereka. Mereka telah pindah ke tempat yang lebih baik. Shelter yang membawa cerita di setiap minggu pagi. Burung, gunung merapi, awan, udara, cemburu melihat bahagiaku waktu itu. Hingga siang telah menjelang lelah yang bahagia aku nikmati sebagia proses berbagi dan kedewasaan yang indah.

This slideshow requires JavaScript.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s