Ketika kamu ingin menulis tapi tak tahu apa yang harus ditulis

Yap, barangkali ini tulisan paling random yang pernah ada. Setelah sekian lama tak menulis, rasanya jariku seperti kram atau malah bisa dikatakan agak gila. Kalau gak bingung mau nulis apa, kadang-kadang jariku malah menari-menari di atas keyboard laptop dan gak jelas nulis apa.

Hasilnya, aku justru lebih suka menghapus setelahnya. Hilang.

Sepertinya menjadi editor menyedot kepercayaan diriku sebagai penulis dan aku jadi agak perfeksionis. Aku belajar tahu mana tulisan bagus dan mana tulisan yang “Ini orang ngomong apa sih?”. Edit-edit-edit-edit-edit. Saking seringnya edit, makanya tulisan sendiri malah jarang banget yang terbit. Malu dan segan. Takut gak terlalu bagus. Ah, aku kayaknya jadi orang memang terlalu serius. Santai sajalah.

Jangan terlalu serius memikirkan segala hal, kadang kita perlu jaga jarak dari kekhawatiran.

Sekian lama gak nulis, kali  ini aku memaksakan diri bikin tulisan yang gak penting. Plus gak jelas. Ya, anggap saja ini sebagai pemanasan yang harus dilakukan setelah lama “menghilang” dari penge-blog-an.

Suatu pagi, di Cafe Organic, Garden Gangstas, Bali. Selepas lelah menyusuri jalan sendirian, minum kopi adalah pembangkit energi. 

Pikiranku menjadi kosong. Seperti ada yang digondol. Entah apa, aku juga masih tak temukan jawabannya. Mungkin saja itu adalah resah. Dan sekarang benak seperti jalanan pukul 3 pagi yang sepi. Lengang tak ada kendaraan yang berlalu lalang.

Damai.

Dan aku hanya memikirkan satu: bagaimana aku bisa menyapamu? Lagi?

Aku ingin bicara tapi tak bisa berkata-kata. Lidahku seperti mati rasa. Aku ingin mendengar. Tapi suara-suaramu terlalu jauh untuk ditangkap gendang. Aku ingin melihat, tapi kau selalu tak tampak. Kau samar dan seperti hendak menghilang.

Aku ingin mencari, tapi aku juga tak paham apa yang hilang. Seperti ada yang kurang. Mungkin jawabannya adalah kebaikan. Aku terlalu sibuk dengan keramaian.

Aku ingin kamu, tapi aku tak tahu cara memintamu. Aku kau menjadi bagian dari hidupku, tapi kau masih perlu banyak dirayu. Padahal, aku tak tak pandai untuk melakukan itu. Tolonglah, jangan kau buat aku jadi pencundang.

Dan waktu. Mungkin hanya itu yang bisa mencairkan kamu yang sudah lama membeku di otakku.

Dan keberanian. Mungkin itu yang membuatmu bisa dalam pelukan.

Dan kerja keras. Mungin itu yang membuatmu tak lagi lepas.

Kamu: harapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s