Gallery

Kopi

coffee
(sumber : pinterest)

Kopi,

Ah, hidup kadang memang lucu. Dulu, 4 tahun yang lalu. Aku masih ingat betul, setiap kali melihat orang menyeduh kopi, aku selalu saja bergidik “minum kok kopi, gak sehat banget sih”. Dirumah juga tidak ada yang minum kopi. Bapak lebih suka minum teh hangat untuk memecah keheningan pagi. Dari dulu, kopi adalah salah satu minuman yang paling aku hindari.

Hingga suatu ketika, tugas kuliah menumpuk banyak. Butuh lembur semalaman untuk menyelesaikan laporan. Mata sudah tidak sanggup lagi ditahan. Katanya, kopi memang mujarab untuk melek malam. Baiklah. Sesekali aku terpaksa menyeduh kopi sachet untuk mempertahan mataku tetap terbuka. Tapi, seringnya malah perutku yang mules, deg degan, dan tidak bisa tidur. Habis itu paginya aku merasa tidak enak badan. Pencernaanku agaknya menjadi eror karenanya. Ahaa aku sama sekali tidak suka dengan yang namanya KOPI. Titik.

Aku tidak cocok dengan yang namanya kopi.

Hari berlalu, seorang teman memperkenalkanku banyak hal tentang Jogja, salah satunya kopi Joss. Salah satu kuliner khas Jogjakarta. Kopi hitam yang diseduh dengan arang. Josss, segelas kopi mengepul seperti mendidih kembali.
Rasanya beda dengan seduhan kopi yang pernah aku cicipi sebelumnya. Kental dan mantap. Aku coba saja. Efeknya lumayan. Mulai saat itu, aku penasaran dengan yang namanya kopi. Sekali dua kali tiga kali aku beradaptasi dengan minuman “berani” ini.

Aku juga mulai suka mencicipi berbagai jenis kopi dari cafe ke cafe. Moccachino, Cappuchino, Machiato sampai bentuk seduhan original (Americano) dari Kopi gayo, mandailing, sidikalang, lintong, toraja, kintamani, wamena, kalosi, sampe yang paling pahit bagiku Bajawa. Entah kenapa kopi yang nikmat tidak bisa aku temukan dari kopi sachetan yang biasa dijual diwarung warung. Dan ternyata, memang begini faktanya : http://justmyhobby.wordpress.com/2013/11/28/jangan-sebut-anda-pencinta-kopi-sebelum-membaca-artikel-ini/. Pantas saja. Aku baru tahu. Dan ternyata memang benar, dan sudah dikonfirmasi dari ahlinya kopi di Jogja.

Aku lebih suka kopi oleh oleh dari daerahnya langsung dibanding beli diwarung.

Aku juga baru menyadari, Indonesia memang surganya kopi. Banyak sekali macam kopi.
Bagi para pecinta kopi di Jogjakarta bisa mencicipi beragai jenis kopi dari seluruh Indonesia di Klinikkopi https://twitter.com/klinikkopi.

Fix, aku suka minum kopi. Kopi yang tidak terlalu banyak gula, creamer, susu, coklat atau apapun. Nikmatnya kopi mulai terasa. Maksimal satu gelas sehari. Tidak lebih. Aku juga tidak akan membiarkan diriku ketagihan olehnya. Karena sesuatu yang terlalu banyak itu tidak baik.

Salah satu efek negatif kopi adalah kecanduan. Dan semoga aku tidak mengalami itu. Dan terkadang yang membahayakan adalah pasangannya si kopi, seperti rokok.
Efek positif kopi bagiku adalah menghilangkan rasa sakit kepala. Ya, setidaknya ketika aku sakit kepala, pilihanku adalah minum paracetamol atau minum kopi. Dan aku lebih memilih kopi.
Secara fisiologis, kopi juga bisa memperlancar peredaran darah. Membawa oksigen kemana mana, lalu kita jadi kemepyar. Bagi yang deg degan setelahnya, mungkin saja tekanan darahnya sedang tinggi jadi ketika efek kafein bekerja, detak jantung menjadi semakin cepat. Karena seharusnya, ketika kopi dikonsumsi dalam takaran yang pas, hal ini bisa membuat rileks tubuh. Beberapa jam kemudian.

Hidup sehat dengan secangkir kopi.

Entahlah, hidup itu emang kadang aneh. Lucu.  Dulu aku benci banget sama yang namanya kopi. Sekarang aku malah jadi suka banget kopi. Menikmatinya. Kopi dan bubur kacang hijau adalah bukti bahwa benci bisa jadi cinta hahaa

“Cintailah sesuatu yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti kamu benci. Dan bencilah sesuatu yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti menjadi yang kamu cintai”. 

Keseimbangan.

#Semangat menjaga kesehatan. Olahraga, sayuran, buah, dan nutrisi lainnya juga harus diasup secara seimbang. Karena setiap pertiga bulan, masih ada orang orang yang membutuhkan darah sehat kita.

Sketsa dari Ananta Wijaya
Sketsa ketika aku dan teman temanku minum kopi di Klinik Kopi dari Ananta Wijaya (Aku : yang pake jam tangan)
Advertisements

Pendakian ke tiga : Merbabu

This slideshow requires JavaScript.

Merbabu, menjadi gunung ketiga dalam sejarah pendakianku. Salah satu perjalanan yang baru sempat kutuliskan sekarang. Perjalanan singkat pada 27 – 29 Desember 2013 lalu.

Merbabu, kata orang gunung ini adalah pilihan yang tepat bagi pendaki baru. Tapi menurut aku, ungkapan itu tidak terlalu tepat. Setiap gunung bisa menjadi awal untuk setiap pendakian, semua tergantung dari kesiapan. Dimulai dari obrolan ringan diantara kami, akhirnya Merbabu menjadi tujuan. Tidak banyak persiapan, tidak banyak amunisi. Semua hal berjalan begitu adanya.

Mendaki di musim penghujan? Orang orang terdekat mulai menyangsikan. Tapi aku tetap berangkat dengan tekad. Nekat. Semoga semua baik baik saja.

Tanggal 27, malam hari sekitar pukul 20.00 kami ber sembilan ada aku, Shinta Chandra Dewi, Ridho Lestari, Arham Nurulloh, Fikri Fauzi Firdaus, Toufik Heri Wibowo, dan dua teman baru kami Ryan Nugroho Aji dan Muryan Whanuri. Berangkat menuju Boyolali dengan sepeda motor. Kami akan mendaki melalui jalur Selo. Disambut oleh udara dingin yang menggigil. Tersesat. Motor bebek yang kutumpangi tidak cukup kuat membawaku menanjaki jalur terjal, lagi lagi aku diturunkan dari kendaraan dan harus berjalan di kegelapan. Apa badanku terlalu besar? Aku pikir tidak demikian.

Teman seperjalanan : Merbabu
Teman seperjalanan : Merbabu

Ya, akhirnya kami sampai di Selo pada pukul 12 malam, tepatnya di basecamp Pak Narto. Hanya ada rombongan kami. Sepi. Dingin merasuki setiap celah pori menggerakkan pintu yang berdecit, dan membuat suara diantara jendela yang tidak bisa dikunci. Sayup sayup suara sang pemilik rumah pun tak ada. Agak mengerikan. Lapang. Aku menenggelamkan diri dalam sleeping bag menikmati malam mempersiapkan energi untuk esok pagi.

Teng, pagi terbit cepat sekali. Suara angin menjadi pemecah pagi. Membawa puing puing harapan untuk bisa ada di puncak Merbabu. Sarapan nasi goreng telur, teh hangat sudah dipersiapkan oleh pemilik rumah yang belum sempat kami sapa malam tadi. Membawa barang seperlunya, sisanya kami tinggal di kendaraan.

Pukul 8.30 pagi kami melakukan pendakian. Tas carier  yang aku bawa kali ini tidak terlalu berat dibandingkan perjalanan sebelumnya. Karena kami hanya sebentar diatas sana. Jadi baju ganti bisa ditinggal di basecamp saja. Oke, setapak demi setapak terlewati. Disisipi pohon rindang, suara binatang, kebun kentang, jalanan setapak, membuatku tak henti mengumpulkan asa dan doa yang selalu menjadi mantra. Kuatkan aku ya Allah, berikanlah keselamatan. Aku menjadi lebih riang.

Beberapa menit berlalu, tiba tiba rasa takut datang menghampiri. Aku merasa tidak enak badan. Pikirku, ini memang masa yang tidak terlalu tepat untuk melakukan pendakian. Jadwalnya datang bulan. Masa PMS (Pre Menstrual Syndrome) mulai terasa. Setiap bulan aku biasanya mengalami Dismenore. Ketakutanku semakin memuncak. Tiba tiba badanku menjadi lemas, ada yang menyedak nyedak dari tenggorokan. Beberapa kali aku ingin muntah. Entah karena apa. Ketidakstabilan hormon. Aku tidak berdaya. Isi lambungku terus saja memberontak ingin dikeluarkan. Pahit, menggigil, panas, merasuki tubuhku yang menjadi tidak stabil.

Klise. Aku ingin kembali. Turun. Pulang. Istirahat dikamar. Hampir sama dengan perjalananku yang pertama di gunung Semeru. Persiapan mental dan fisik yang kurang baik. Bayang bayang sakitnya masa PMS diatas gunung membuatku semakin sakit. Ingin muntah, dada sesak, dan perut mulai tidak karuan.

page1

“Aku turun saja ya” | “Yakin kamu akan turun sendirian? Pos 2 sebentar lagi, kalau kamu turun, itu akan lebih jauh dibanding kamu naik” | Aku berfikir. Masa iya aku mau menyerah begitu saja. Aku percaya. Aku semangat. Dan nyatanya aku selalu tertipu oleh dorongan mereka. Tapi aku bersyukur punya rekan perjalanan yang tidak pernah membiarkanku menyerah begitu saja. Setidaknya aku tidak boleh menyerah pada diriku sendiri. Akhirnya, aku memutuskan untuk tetap maju. Cukup lama kami beristirahat agar kondisi perutku stabil. Segala teknik penyembuhan sudah aku terapkan. Mungkin aku merasa shock dan kondisi psikis yang tidak cukup baik. Baiklah, aku tidak akan menyerah.
Aku berjalan. Melangkahkan kakiku perlahan. Membiarkan dada yang mulai menyumpal nyumpal ingin muntah. Aku berkompromi dengan diriku sendiri. Aku menikmati setiap tanah yang kuinjak. Aku menikmati angin. Melupakan bayangan rasa sakit yang seringkali datang setiap bulan. Aku tetap berjalan, tegar dan selalu berdoa. Aku menjadi baik baik saja.

Sampailah kami di pos 2. Tubuhku jauh lebih baik. Coklat, madu, air minum cukup membuatku menjadi lebih berenergi. Tips kala diri sudah lelah mendaki adalah berjalanlah di belakang kaki yang berjalan dengan stabil. Matamu akan fokus pada kaki yang terus melangkah maju. Kita akan menjadi lebih kuat, tidak mudah menyerah, dan mengikuti langkahnya. Jangan biarkan temanmu meninggalkanmu lebih dari 6 meter di depanmu. Dan jangan biarkan dirimu berada di paling belakang. Lalu, saat semua tubuh sudah dalam keadaan stabil, orang yang paling lemah dirombongan bisa ditempatkan pada posisi paling depan. Ini juga cukup efektif untuk mendorongnya tidak mudah menyerah, memimpin dan membuat ritme perjalanan yang menyenangkan. Bagaimanapun si lemah (seperti aku) tidak akan membiarkan teman temannya membuat ritme untuk terlalu sering berhenti karena bisa membuat raga merasa cepat lelah. Berjalanlah secara perlahan dan stabil. Lakukanlah respirasi disetiap langkah kaki.

Sampilah kita di Pos 4 Savana 1 pada pukul 2.00 siang. Enam jam perjalanan. Lalu kami mendirikan tenda. Matahari cukup gagah memanggang kulit. Angin berhembus kencang. Udara dingin. Kulit menjadi kering sekali rasanya. Kami beristirahat, sholat, berbenah, masak, menikmati awan, bermain di savana, berfoto, bercanda, dan hal yang tidak pernah aku tinggalkan ketika mendaki : menulis. Merangkum apa yang aku lalui dan sedikit bermain kata dengan buku harian. Seperti biasa. Perjalanan cukup singkat.

page

Waktu berjalan cepat. Senja menjelang, Malam tiba. Menghaturkan seperangkat kabut dan angin kencang. Dinginnya menjadi tidak karuan. Beberapa kali turbulensi angin tidak terkendali. Menerbangkan daun kering yang sudah mencoklat. Kami lebih suka berada didalam tenda,  bercengkrama, menghabiskan malam dengan membuat kopi, susu coklat panas. Para laki laki membuat api unggun. Ya, dinginnya sudah menusuk nusuk jaringan. Api unggun dibuat bersama oleh beberapa tim lain. Menyala nyala menghangatkan tubuh, tepat disamping tenda kami. Tenda perempuan.

Saat dini hari. Entah apa yang dilakukan oleh temanku, tiba tiba aroma “tidak terdefinisikan” berhembus kejam merasuki celah pori pori tenda. Lagi lagi, perutku terasa memberontak. Sesak nafas. Pasalnya api unggun itu dikencingin untuk mengontrol api oleh sang penjaga yang hanya seorang diri. Entahlah. Kejadian yang agak tidak masuk akal.

Malam berlalu, pagi menjemput. Udara dingin yang berhembus masih sama seperti malam tadi. Bajuku sudah berlapis empat. Satu manset, satu kaos pendek, dua lapis jaket. Sholat subuh dengan kaki gemetaran di depan tenda. Menikmati matahari terbit, CO2 yang berhembus dari mulut mengisi atmosfer, air putih yang cukup dingin menyentuh tenggorokan. Aku selalu suka udara gunung. Aku tidak pernah bosan dengan aromanya yang membius. Pagi dimulai lagi, Selamat pagi Indonesiaku.

page4
Menu makanan perjalanan Merbabu

Sarapan, bersiap siap. Akhirnya, kami ber tujuh melanjutkan perjalanan menuju puncak Triangulasi. Kami meninggalkan tas di tenda. Dua teman kami yang tidak ikut muncak. Pundak menjadi lebih ringan. Kondisi kesehatan juga cukup fit. Semua persiapan beres. Dan petualangan dilanjutkan.

Perjalanan savanna 1, savanna 2, lalu banyak pos pos bayangan. Betapa terjalnya perjalanan menuju kesana. Kemiringan tanah sudah hampir tegak lurus. Aku tidak lagi bisa mengandalkan tracking pole  dalam perjalanan di jalur ini. Yang aku butuhkan adalah mendaki dengan berpegangan rumput semak yang berbonggol kuat. Terjal. Melintasi jalur ini wajib menggunakan sarung tangan untuk menghindari lecet. Debu mengebul dari pendaki diatasnya. Jadi, bersyukurlah aku yang menggunakan kacamata. Debu beterbangan dengan bebas. Meski pagi itu cukup sejuk.

Aku tidak pernah suka mendaki menggunakan jaket, karena hal ini membuatku cepat lelah, yang disebabkan panas tubuh yang terperangkap didalamnya. Cukup kaos yang nyaman dan tidak terlalu tipis. Jadi aku terkadang lebih suka menggunakan manset dan kaos lengan pendek. Tidak terlalu membentuk tubuh. Tidak terlalu tipis, dan tidak terlalu tebal. Saya merasa pas disetiap cuaca.

Sepanjang perjalanan, kabut tipis turun pelan pelan dipuncak Merbabu. Menebal. Membungkus pemadangan kota Boyolali, menutupi lintasan yang telah kami lewati. Dingin sudah tidak lagi terasa karena panas tubuh yang dihasilkan karena lelah berjalan. Triangulasi tersaji setelah pendakian merayapi bumi. Kabut menutupi apapun dibawahnya. Sesekali merayap seperti cicak.

Aku tiba dipuncak, seperti biasa, paling terakhir diantara yang lain. Lega, takjub, bahagia, senang. Dan seketika badanku menjatuhkan diri memeluk plang sebagai rasa “akhirnyaaa”. Meresapi udara yang pelan membawa semangatku untuk bersyukur tentang banyak hal. Hidup. Perjalanan. Perjuangan. Tekad. Lagi lagi aku terbius udara itu. Wanginya, hembusannya, dinginnya, sejuknya, mesranya. Aku tidak pernah bosan untuk berjalan menuju kesana. Membawa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Segala Puji hanya BagiMu.

cats

Saat kembali turun, aku harus lebih ekstra hati hati. Jalanan terjal yang didominasi rumput liar seukuran mata kaki cukup susah dilintasi. Saat kita membiarkan kaki berlari berbawa gravitasi, maka tidak akan mudah untuk menghentikannya. Kaki bisa berlari tanpa terkendali. Jujur saya agak takut. Tracking pole juga cukup meragukan untuk menjadi pengerem. Akhirnya aku memilih glesotan/jongkok dan membiarkan celanaku kotor meluncur kebawah sambil pegangan rumput. Sesekali aku berlari diatas rumput kering dan berhenti di pepohonan pendek yang bisa menahan tubuhku. Ya, jalur ini cukup menguras tenaga dan taktik. Tapi, semua menyenangkan. Hingga kami sampai di tenda savanna 1. Waktu yang dibutuhkan lebih pendek 2 kali lipat, seingatku kami turun hanya memerlukan waktu 2 jam.

Setelahnya, petualangan kami selesai sampai disini. Kami berkemas. Membawa kembali sampah yang kami hasilkan. Memberikan sisa makanan yang kami bawa. Kami turun sekitar jam 2 siang.

Jalur Selo gunung Merbabu didominasi oleh tanah basah yang sedikit berlumpur. Seperti jalur aliran air. Harus berhati hati karena di beberapa spot yang tanahnya licin. Jadi beruntunglah kami mendaki saat tidak terjadi hujan. Pertemuan dengan monyet penghuni Merbabu jadi hal baru bagiku. Mereka akan datang untuk meminta makanan. Sesekali coklat temanku berhasil diambilnya. Aku sehat dan selamat sampai kembali.

Hingga akhirnya, kami kembali tiba di Jogjakarta setelah magrib. Ya, setiap perjalanan mempunyai cerita masing masing. Merbabu, aku jadi tahu bahwa pikiran selalu mempengaruhi perilaku.Ternyata sakitku hanya karena ketakutanku. Aku baik baik saja. Takut akan bayang bayang sakitnya PMS yang mungkin saja bisa datang saat aku berada dipuncak. Seharusnya, aku tidak perlu takut, jalani saja. Karena nyatanya semua baik baik saja kalau kita tetap berfikir positif. Banyak hal yang terhambar hanya karena ketakutan yang sebenarnya hanyalah bukan apa apa.

Ya, seperti lirik lagu Wind yang menjadi sountrack serial Naruto “Reflection of fear make shadows of nothing”.

DSC03647
Merbabu via Selo
Image

Dilema energi Indonesia, ada apa?

energi

Indonesia telah memasuki masa usia lanjut, 68 tahun. Sudah cukup umur untuk bisa menjadi negara maju. Indonesia dengan segala kekayaanya selalu menjadi primadona di mata dunia dan masyarakatnya sendiri. Negara dengan keanekarangaman hayati tinggi. Negara dengan mayoritas muslim terbesar. Negara yang sedang berbenah dibanyak bidang. Butuh kerja keras untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang mandiri, tak selalu dibodohi, tak dicaci maki, tak diperdayai, dan benar benar memerdekakan diri fisik ataupun psikis. Negara lugu yang harus cerdik mengelola kekayaannya yang melimpah.

Bicara  tentang masa depan Indonesia.

Suatu negara bisa menjadi negara maju setidaknya harus mandiri dalam 3 bidang yaitu pangan, air, dan energi.

Disini saya ingin membahas tentang energi.
Dalam hukum Termodinamika menjelaskan, bahwa energi itu tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Jadi usaha manusia dalam rangka menuju kesejahteraan adalah mengubah energi kedalam bentuk yang bisa digunakan untuk keperluan kehidupan.

Sumber energi dibagi menjadi dua jenis, terbarukan dan tidak terbarukan. Sumber energi tidak terbarukan (non renewable) adalah sumber energi yang sekali habis seperti batu bara, minyak bumi, gas alam. Sedangkan sumber energi terbarukan (renewable) adalah sumber energi yang dapat diperbaharui seperti halnya angin, panas matahari, arus laut yang mampu berkelanjutan.

Permasalahan Indonesia dalam bidang energi adalah tentang kebutuhan energi yang tidak mampu tercukupi secara mandiri. Padahal Indonesia punya sumber daya alam (SDA) yang memumpuni. Lalu apa yang salah?

Pertanyaan ini terus saja mengusikku dan mimicuku untuk mencari tahu. Hingga akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang energi dari para pakarnya.

Sudah menjadi kejengkelan yang amat sangat bagi masyarakat Indonesia tentang fakta yang menyebutkan bahwa banyak sekali perusahaan minyak asing yang berkuasa di negeri ini. Perusahaan asing yang berinvestasi, menyedot minyak bumi dari negeri pertiwi, lalu mereka mengolahnya, dan kita balik membelinya. Indonesia bukan menjual lahan, tapi menyewakan lahan. Lalu kenapa pemerintah memutuskan untuk menyewakannya? Tidakkah jika kita olah sendiri kita bisa menjadi mandiri?

Ya, itulah harapan kita dimasa depan. Saat ini Indonesia tidak punya kilang pengolah minyak yang mumpuni. Sekalipun punya itupun sudah tidak terlalu optimal (berusia tua: kilang milik BUMN). Jadi hanya sebagian saja yang diolah sendiri. Indonesia tidak punya teknologi dan infrastruktur yang pas untuk mengolah minyak dengan baik. Lalu kenapa Indonesia tidak membuatnya sendiri?

Indonesia belum berani untuk menginvestasikan dana negara sepenuhnya pada pembangunan kilang minyak yang perlu dana berlipat lipat ganda. Jadi sang pertiwi memilih untuk menyewakan lahan, yang kemudian ada bagi hasil. Berharap bisa menambah nilai ekonomi minyak. Tapi tetap saja tidak bisa mencukup kebutuhan energi yang semakin membengkak seperti kaki kena infeksi. Dan dana negara semakin banyak dikorupsi, hutang ikut juga membengkak seperti kaki gajah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat, kebutuhan energi semakin meningkat. Sumber daya energi (minyak bumi, batu bara) semakin menipis dan habis. Negara harus semakin banyak mengimport BBM dari Singapura, Arab dan negara lainnya. Import BBM sudah menjadi belanja harian negara. Belum lagi masyarakat menuntut untuk subsidi semurah murahnya. Dilema energi Indonesia. Tapi negara ini tidak punya pilihan lain selain terus berkembang dan maju.

Belum lagi masalah batu bara yang terus terkeruk hingga tak meninggalkan sisa untuk beberapa keturunan kita. Indonesia menjadi pemasok kebutuhan energi dunia, tapi tidak bisa memasoki kebutuhan sendiri. Ironis sebenarnya. Ada permainan politik dan kesepakatan dengan dunia dalam pengelolaan kebutuhan energi di seluruh negara. Seakan Indonesia tidak punya pilihan lain. Menjual batu bara mentah, mendapat untung karena harga batu bara dunia mahal, lalu sadar batu bara untuk dapur sendiri tidak ada, membeli dengan harga yang lebih mahal. Hitung hitungan ini semakin membuat saya pingsan.

Tumiran, salah satu anggota Dewan Nasional Energi Indonesia menuturkan, kita harus mengubah paradigma tentang energi. Indonesia terlalu dininabobokan tentang kekayaan yang melenakan. Sudah saatnya menggunakan sumber energi ini menjadi modal pembangunan dalam negeri, bukan menjadikannya sebagai komoditi. Infrastruktur domestik juga harus ditingkatkan. Saatnya pintar pintar memanfaatkan 2 hal yang tidak pernah habis dan berkelanjutan yaitu sumber daya manusia Indonesia dan sumber daya alam terbaharui. SDM yang mumpuni untuk bisa membuat kilang minyak sendiri, pemanfaatan SDA yang lebih menjanjikan.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo, juga mengatakan Indonesia punya segalanya, kita kaya. Yang tidak kita punya itu kebersamaan, rasa sense of belonging pada kepentingan negara.

Kita tidak bisa lama lama bergantung dengan BBM (sumber daya alam tidak terbaharui). Waktunya mencoba membuka mata untuk memanfaatkan angin, alga, tenaga surya, tenaga ombak, panas bumi, bahan organik dan masih banyak lagi. Yang bersifat keberlanjutan. Hal ini menjadi tantangan bagi para ilmuwan untuk menemukan ide ide brilian demi ketahanan energi Indonesia.

Sekarang bukan lagi saatnya mempersalahkan dia atau dia, tapi saatnya berbangkit menghapuskan ketidakadilan. Menjadi negara yang berdaulat, mandiri, berdaya. Kerjasama antara 3 hal, masyarakat (ilmuwan), pemerintah, dan pengusaha. Intergrasi yang baik antara ketiganya adalah kunci utama. Semangat yang sama, keyakinan/keteguhan yang sama, dan kecintaan yang sama pada Indonesia.

Semangat yang sama untuk benar benar memerdekakan Indonesia.

sumber gambar : connectnigeria.com

Lawu dibulan September

This slideshow requires JavaScript.

Kali ke dua saya mendaki gunung, terpilih Lawu.

Gunung lawu berada diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketinggian 3265mdpl dengan tiga rute pendakian. Saya hanya melewati dua rute, Berangkat melalui Candhi Cetho, dan pulang melalui Cemoro Sewu. Perjalanan saya kali ini cukup singkat dibanding mendaki Semeru. Petualangan gila dengan teman teman dimulai sore tanggal 6 September 2013.

Petualangan ini dimulai dari sebuah inisiatif ringan dari seorang teman, lalu akhirnya berlanjut pada aksi nyata kita bersama. Berangkat mengendarai sepeda motor dari Yogyakarta ke Candi Cetho. Tim kami ada 12 orang. Enam orang berangkat dari Yogyakarta ada aku, Ridho Lestari, Arum Ambarwati, Andi Mahendra, Toufik Heri Wibowo, dan Fikri Fauzi Firdaus. Lalu enam orang lagi Zisky Ma’rufi dan teman teman sekolahnya di Malang. Perbekalan yang cukup, dan satu baju ganti cukup untuk mendaki gunung Lawu.

Pendakian Lawu dari Candi Cetho menurut saya lebih “gila” dibandingkan pendakian Semeru sampai camp Kalimati. Pendakian kali ini banyak sekali jalanan menanjak. Hampir mungkin semua perjalanan punya elevasi >10. Seperti biasa, ladang, hutan, jurang, awan, dan cukup panas. Musim kemarau menjadikan perjalanan terasa terik dibeberapa bagian. Jalanan menanjak dengan berbagai medan, tanah, batuan, hingga tanal lembut yang berdebu. Rute yang kami ambil jarang sekali digunakan para pendaki, ini lebih lama 2 kali lipat dibanding dari Rute Cemoro Sewu. Medan juga lebih berat. Katanya rute ini yang biasa digunakan para anggota Kopasus untuk latihan. Saya baru tahu setelah berada di tengah perjalanan. Pendakian dimulai pukul 09.00 pagi. Secara fisik, aku cukup kuat dan tidak terlalu payah karena dibarengi dengan kondisi psikis dan mental yang siap. Jadi saya cukup menikmati pendakian “gila” ini. Jalan mendaki berjam jam, jarak antar pos yang sangat jauh, tidak ada pendaki lain kecuali kami. Perjalanan kami pelan, sering istirahat, berhenti untuk masak makanan atau minuman, dan solat di sepanjang jalan setapak. Jujur saja aku agak takut melakukan perjalanan pada suasana petang, tapi pendakian yang cukup jauh dan terjal memaksa kami hanya mampu sampai di Pos 4 tepat saat senja. Rencana kami terkikis sedikit demi sedikit karena perjalanan yang berat diluar ekspetasi kami. Di pos 4 kami berencana ngecamp, tapi setelah berpikir ulang tentang kondisi geografis yang sempit dan pemandangan savana di Pos 5 membuat kami semangat untuk melanjutkan perjalanan, meski hari sudah petang. Dalam hati kecil paling dalam, saya sangat takut. Aku mencoba mengatasi ketakutanku dengan berfikir positif.

Sudah menjadi rahasia para pendaki kalau gunung Lawu adalah salah satu gunung paling angker. Aura mistis lebih kuat. Perjalanan malam itu hanya bermodal senter di kepala. Seorang teman yang menjadi leader atau pembuka jalan beberapa kali merasakan merinding. Tapi untungnya saya tidak melihat apa apa. Katanya disana juga ada pasar setan yang biasa orang bicarakan. Beberapa kali kami terhenti untuk memulihkan tenaga. Indahnya senja dilihat dari gunung sangat mengagumkan. Dinginnya malam di atas awan sangat menggelitik tulang. Lampu lampu kota dibawah terlihat lebih kecil dibanding bintang dilangit atas kepala kami. Belum lagi semburat gradasi warna jingga dan biru yang berebut untuk saling berpadu, melukis langit agar bisa kita lihat. Dan bulan sabit yang malu malu memantulkan cahaya ke bumi. Petang. Keindahan alam, aroma udara, rasa syukur, dan kekuatan Tuhan  yang membuat saya tidak takut terus berjalan. Bersama meraka juga.

Ya, akhirnya kami sampai di pos 5 (sebuah padang rumput) tepat pukul 8 malam. Membagi tim dalam kelompok kerja, membangun tenda, membuat api dan memasak air panas. Aku kebagian membuat kopi dan teh hangat untuk mereka. Dingin angin gunung waktu itu sangat menusuk. Tangan serasa membeku, bahkan aku tidak lagi mampu merasakan pipiku sendiri. Mungkin suhu sudah <5 C. Saya terkapar, panas yang terik dan mata yang kotor karena debu membuat saya harus meminum obat. Ya, angin gunung yang dingin menemani malam mingguku.

Awalnya kami berencana untuk menikmati sunrise dipuncak. Tapi dinginnya yang menusuk dan lelah yang berlipat mendegredasi semangat kami. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pada pukul 08.00 pagi.  Cukup panjang dan terik. Puncak sudah di depan mata tapi kami harus memutar. Hingga sampai di Hargo Ndalem pukul 10.00. Di sana ada surga bernama warung makan “Mbok Yem”. Surga, minum teh hangat makan nasi telor dan sayur dan tertidur di tikar berdebu.  Ada banyak pendaki yang singgah, ibaratnya seperti barak. Mereka bergeletakan tidur pulas dengan atap rumah. Pemandangan yang belum pernah kulihat.  Kami juga melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Hargo Dumilah dan Hargo Dumilih. Puncak diketinggian 3265 mdpl. Bahagianya aku waktu itu.

Syukur tak terkira, aku bisa menikmati ciptaanNya yang satu ini. Aku seperti di atas awan atau silent hill. Dibawahku isinya hanyalah kabut dan awan. Angin juga berhembus cukup kencang waktu itu. Tidak bisa berkata kata. Aku tidak pernah menyesal mendaki sejauh dan setinggi ini.

Setelah itu, kami turun melalui rute Cemoro Sewu pukul 14.00. Hampir sebagian besar medan adalah undakan batu. Sengaja dibuat. Batu besar dan kecil saling berpadu menahan kaki kami, harus hati hati agar tidak keseloa, harus teliti agar tidak salah menapak. Turunan cukup terjal. Tapi sebenarnya saya lebih lincah di jalan turunan.

Diantara kami ada yang senternya mati, kaki keseleo, dan kelelahan. Kami menikmati perjalanan hingga senja berlalu. Malam. Beberapa diantara kami terpisah jarak yang jauh. Kami mengalami kejadian horor masing masing. Ada temanku yang diikuti suara langkah kaki yang tidak ada wujudnya, dan melihat sebuah abu abu yang entah itu apa atau hanya pikiranku saja aku tidak tahu pasti. Saya tidak mau memastikannya. Setelah itu saya tidak lagi memainkan senterku kesegala arah.

Sampai di cemoro sewu pukul 08.00 malam. Beristirahat dan melanjutkan perjalanan bis 1 jam menuju Candi Cetho. Sampai di kosan pukul 03.00 pagi tanggal 09 September 2013.

Melelahkan. Mengasyikan. Belajar. Menikmati. Keindahan. Kepedulian. Ketagihan. Semua ada dalam perjalanan panjang ini. Mendaki gunung seperti candu yang menggoda kita untuk lagi dan lagi. Angin gunung, dingin, kedamaian, ketentraman, keindahan yang tidak dapat didapatkan di kota. Rasa syukur dengan bahagia atas kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kami menikmati ciptaanNya, belajar.

Lawu di bulan September.

Yogyakarta, September 2013

Naik gunung, Semeru!

This slideshow requires JavaScript.

Semeru

Dalam catatan statistika, menunjukan Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di pulau Jawa. 3676 mdpl. Berada di bawah pengawasan Balai Taman Nasional Bromo dan Semeru, Jawa Timur. Gunung Semeru, aku punya cerita sendiri disana.

Tanggal 28 Juni – 3 Juli 2013.

Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dari rutinitas kesibukan kepentingan di kota Yogyakarta. Kesibukan hati dan fikiran. Aku berlibur, naik gunung. Segala perlengkapan kupersiapkan dengan mendadak, aku baru memutuskan untuk pergi satu hari sebelum tim berangkat pergi. Setidaknya ada polemik tersendiri untuk memutuskan semuanya. Fisik, tanggung jawab, kecemasan orangtua, dan tekat. Halangan, rintangan, pada akhirnya terlalui dan aku berhasil pergi. Dengan penuh tanggung jawab, kusampaikan pada orang orang yang sedang bersangkutan bahwa aku membutuhkan waktu untuk merefresh diriku sendiri. Harap maklum.

Ya, akhirnya malam itu jam 21.00 aku bisa berangkat naik kereta Malioboro Express. Berkenalan dengan teman teman baru yang belum aku kenal sebelumnya. Kami 8 orang, 3 perempuan 5 laki laki. Ada Ridho Lestari, Syane Rohsinta selain itu Fikri Fauzi Firdaus, Dhieno Eka Putra, Arham Nurrrulloh, Toufik Heri Wibowo, dan Rizky Ma’rufi. Diantara mereka hanya satu yang aku kenal.

Ini kali pertama aku naik gunung yang “sesungguhnya”. Sebelumnya aku hanya sering melakukan susur pantai atau naik gunung yang bisa ditempuh hanya beberapa jam waktu itu [SMA]. Setidaknya aku punya fisik yang kuat untuk bisa mendaki gunung Semeru. Fikirku.

Petualangan yang menantang dimulai. Satu kegilaan yang pernah kulakukan.

Berangkat dari Stasiun Tugu jam 22.00, turun di Malang jam 05.00 pagi. Lalu naik angkot sampai Pasar Tempel jam 07.00. Lalu berangkat Mobil Jeep sekitar jam 9.00 sampai Ranu Pani jam 11.00. Lalu memastikan semuanya, administrasi, database barang, makan dan lain lain. Kami mulai berjalan kaki naik gunung pukul 13.00 menuju Ranu Kumbolo sampai pukul 19.00 WIB. Ranu Kumbolo menjadi camp pertama kami. Perjalanan panjang dengan jalan yang tidak sederhana, melewati jurang, tepi gunung, tanjakan tinggi, turunan, semua membuatku berkhayal naik pesawat, atau ada Edward Cullen [Tokoh di serial Twilight yang bisa terbang] membawaku ke Ranu Kumbolo. Butuh kekuatan ekstra, pengaturan energiku, belum terbiasa jalan seberat ini. Satu jam pertama, terbersit pikiran aku ingin turun, ingin menyerah, ingin pulang, sendiri. Tapi aku tak bisa, aku sudah mampu melewati tanjakan super tinggi jadi pikirku yang lain aku juga pasti bisa melewati berikutnya. Tetaplah berjalan, jangan lihat seberapa tingginya. Maka tidak disadari ternyata aku mampu. Aku membawa beban tas 60 liter. Beberapa langkah aku beristirahat, pendakianku perlahan, lebih pelan dibanding yang lain meskipun aku menggunakan Trecking pole [tongkat mendaki]. Tapi kata temanku, aku cukup kuat dan baik bagi para pemula dengan. Saat sore menjelang, kabut tipis perlahan mulai turun jam 3an. Udara dingin mulai menyeragapi tubuhku, tapi ini tidak terasa karena matabolisme tubuhku lebih panas. Rintik hujan turun kala itu. Perjalanan menggunakan ponco jelas membuat lebih berat. Tapi anehnya, justu setelah itu aku seperti punya kekuatan berlipat. Lebih kuat dari sebelumnya, mungkin karena aku suka hujan. Aku berjalan lebih cepat tidak banyak istirahat. Hujan semeru waktu itu seperti menyihirku, Tuhan memberi aku kedamaian lewat air kabut tadi sore. Hingga akhirnya aku sampai di Ranu Kumbolo jam 19.00. Tak menyangka aku bisa sampai disana, melihat gunung bukit yang tinggi aku terpaku, takjub, dan kagum. Tuhan, sumber segala kekuatan itu.

Kami langsung mendirikan tenda. Ranu Kumbolo ramai sekali waktu itu. Sayang sekali. Aku baru tahu, Gunung Semeru sekarang lebih ramai didaki sejak ada film 5cm dibioskop. Kami memasak mie rebus, kopi, coklat, dan menanak nasi dengan nasting. Soal buang kotoran menjadi sedikit dilematis, tidak ada toilet dan harus menggali tanah di tempat tak terlihat jauh dan dibersihkan dengan tissue basah. Kalau aku, sambil menggunakan ponco untuk mengantisipasi dilihat orang. Disepanjang tanjakan balik bukit banyak sekali kotaran [biasa disebut ranjau] para pendaki. Menjijikan.

Paginya, kami melanjutkan lagi perjalanan jam 09.00 pagi. Setiap pendaki tidak boleh meninggalkan sampahnya di gunung. Lalu kami mengisi botol aqua dengan air danau, dan beberapa di kempeskan untuk kita bawa naik. Sampah bekas masak bisa dititipkan di posko. Harus meninggalkan KTP tentunya. Kami juga bertemu dengan tim dari jogja, kami sebut tim bacok [nama ketuanya]. Kami semua mulai berteman sejak itu.

Perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati dimulai dengan mendaki Tanjakan Cinta. Tanjakan dengan sudut elevasi [sepertinya] lebih dari 45o. Aku tak tau pasti kenapa dinamai Tanjakan Cinta, mungkin disanalah cinta laki laki yang membawa perempuannya diuji. Setelah itu terbayar dengan melewati padang lavender yang baru pertama kulihat. Indahnya tak terkatakan. Ungu, hijau, biru, semua jenis warna tampak tajam. Perjalananku semakin payah, sepanjang mata memandang, semua jalanan menanjak dengan elevasi yang berbeda beda. Energiku terkuras, aku seperti tak punya tenaga lagi. Letih sekali rasanya, semakin sedikit langkah yang bisa kutempuh. Setiap ada pohon atau ruang agak luas aku langsung menyungkurkan badanku. Tergeletak tak berdaya. Ditengah hutan, terfikir ingin kembali tapi itu pilihan bodoh. Maka aku tetap berjalan, dan terus  berjalan semampuku. Setiap pendaki lain yang berpapasan denganku pasti bilang “Semangat mba, cuma sebentar lagi kok”. Pikirku, “PHP [Pemberi Harapan Palsu] banget”. Padahal camp Kalimati masih jauh sekali. Begitulah keramahan digunung, setiap pendaki pasti menyapa pendaki lain yang berpapasan. Sainganku waktu itu adalah seorang laki laki anak SMA gendut sekali mungkin berbobot >100 kg. Kita sama sama payah dalam jalan menanjak. Sedikit malu sebenarnya. Mencoba mengumpulkan energi dengan gula jawa. Belum juga membuatku lebih berenergi. Saat itu, aku ingin hujan turun lagi. Tapi tidak. Beberapa meter sebelum Jambangan seorang teman [bertugas sebagai sweeper] membantuku membawa carier. Agar aku lebih kuat untuk terus berjalan. Aku menjadi sedikit merepotkan.

Aku sampai di Jambangan, pos sebelum Kalimati. Temanku yang lain sudah menungguku disana lebih dari satu jam. Makan mie rebus yang ditawarkan dari kelompok pendaki tak kukenal cukup membuatku lebih bertenaga. Agak lama beristirahat. Yang lain mungkin sudah sampai, dan tertinggal kami bertiga. Perjalanan tidak terlalu lama, satu jam mungkin. Hingga akhirnya kami semua sampai di camp  terakhir kami, Kalimati.

Seperti biasa, takjub. Mahameru terlihat lebih dekat di depan mata dengan tekstur setengah vegetasi dan setengah pasir, batu besar. Mendaki itu yang ditaklukan bukanlah gunungnya, tapi diri sendiri. Aku tidak bisa berkata apa apa.

Tengah malam sekitar pukul 12.00 semua bersiap siap untuk mendaki Mahameru, puncak Gunung Semeru. Kali ini, semua barang ditinggal di camp. Mendaki Mahameru perlu mental, fisik, perlengkapan, dan kebersamaan yang kuat. Baju tebal, sepatu tertutup, dan makanan sumber energi. Aku memutuskan untuk tidak ikut, fisikku masih dalam proses recovery. Dan aku tidak cukup berani keatas dengan perlengkapan yang aku bawa. Akhirnya, aku ditinggal di camp  sendirian 7 anggota lain naik Mahameru. Aku melewati malam sendirian didalam tenda yang gelap dan dingin. Menakutkan. Aku hanya berusaha memejamkan mata, membaca doa, dan berharap aku segera terlelap. Atau mungkin waktu berjalan cepat, dan matahari segera terbit. Mengurangi gerak dan suara. Aku memberanikan diri.

Setiap pendaki harus sudah turun dari Mahameru sebelum jam 10.00 pagi, katanya gas yang dikeluarkan sudah berbeda dan beracun dan berhubungan dengan arah letusan. Ini berdasarkan analisis kematian Soe Hok Gie. Jadi mereka mendaki tengah malam. Itu pun, sampai dipuncak jam 08.00 pagi. Tidak mudah mendaki Mahameru, satu langkah maju, dua langkah mundur lagi. Ada yang merangkak, dan ada yang pakai tali. Aku belum pernah merasakannya sendiri.

Paginya, aku sendirian mempersiapkan makan dan semuanya. Aku melihat kilat senter, dan mendengar letusan diatas sana. Mereka masih diatas sana. Tapi, syukurlah tidak terlalu berbahaya karena asap tidak mengenai pendaki.

Pagi itu, salah seorang teman pendaki dari tim lain, mengajakku dengan simpati untuk mengambil air. Aku tak punya pilihan untuk malas atau takut, tidak ada teman satu timku disini dan aku butuh air untuk masak. Akhirnya aku ikut pergi ke Sumber Mani namanya. Air hanya bisa didapatkan disini, cukup jauh dan masuk kehutan. Perjalanan kesana cukup cepat karena jalanan menurun dan membawa tas carier yang hanya berisi botol kosong. Ada dua pancuran air di Sumber Mani, dibaliknnya banyak batu batu besar. Airnya dingin dan segar, aku menyempatkan untuk mencuci mukaku dengan sabun. Dan jalan kembali sangat menyiksa, tanjakan tajam. Konon katanya di sekitar Sumber mani pernah ada yang melihat Macan. Dan tidak banyak orang yang pernah kesini. Seorang teman bilang, “beruntung kamu sebagai pemula bisa ke Sumber Mani”. Beneran atau mungkin hanya menghibur karena aku tidak sampai Mahameru.

Saat aku sendiri, aku mulai belajar banyak hal dari rombongan lain. Masak masakan ala pendaki. Lontong, tempe, dan lain lain. Karena sebelumnya aku tidak terlalu terampil memasak. Jam 12.00 siang semua timku baru tiba. Ada yang muntah muntah dipuncak, ada yang kakinya cedera. Tapi syukurlah mereka semua pada akhirnya kembali.

Jam 4 sore, kami melakukan perjalanan kembali turun ke ranu Kumbolo. Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan perjalanan dimalam hari. Jalanan turun gunung tidak sepenuhnya menurun, masih tetap ada tanjakan dibeberapa kesempatan. Tapi kali ini aku lebih menikmati. Aku punya stamina yang baik dan cukup energi. Beberapa teman menjadi pelan pasca Mahameru, ada yang cedera kaki. Aku ada diurutan ketiga. Dua temanku didepan sangat cepat, aku tidak bisa mengikutinya, sedangkan temanku dibelakang sudah tertinggal jauh. Tidak sadar bahwa aku jalan sendirian. Ditengah Hutan. Sepi sekali rasanya, tapi damai dan menyenangkan. Suhu dingin yang menusuk perlahan ke tubuhku membuatku sedikit menggigil. Sesekali bulu rona merinding karena dingin. Aku terus berjalan, ada rasa takut yang menyelip perlahan. Ada rasa khawatir aku salah jalan. Aku hanya berdoa, meminta pentunjuk dan perlindungan dariNya. Aku masih berjalan mencoba membuat suasana bahagia dan tenang. Ada burung kecil terbang didepannya sepanjang perjalanku sendiri. Dia terbang dari satu pohon kepohon yang lain sepanjang jalur pendakian. Berharap segera berpapasan dengan pendaki lain. Tapi kali ini sepi, tidak seramai saat naik. Beberapa kali aku ikut gabung dengan pendaki lain yang papasan beristirahat [meskipun sebenarnya aku tidak capek, hanya takut sendirian]. Aku fikir ini bukan solusi yang baik, hari sudah semakin petang. Ini akan memperparah keadaan. Aku harus segera sampai di Ranu Kumbolo. Aku terus berjalan lagi dengan carier 60 liter dipunggung, sedikit berlari, sedikit bernyanyi, aku menikmati, aku lebih lincah.

Cukup lama, hingga akhirnya aku mendapati teman timku di ujung padang lavender. Mereka menungguku. Tepat saat matahari tenggelam sempurna, gelap. Aku sampai di Ranu Kumbolo. Kami ngecamp disini lagi. Sepi. Beberapa masih dalam perjalanan. Mengambil lagi sampah yang kita tinggal.

Kami beristirahat, bermain, foto foto, mengurusi iuran dan lain lain. Esoknya kami kembali ke Ranu Pani jam 13.30 siang. Waktu itu terasa seperti pagi, kabut tebal menyelimuti Ranu Kumbolo. Perjalanan lebih cepat dari sebelumnya, aku juga lebih lincah. Aku lemah di jalan Tanjakan. Tapi begini seninya naik gunung, mendaki tak selamanya jalan menanjak, turun gunung juga tak selamanya jalanan menurun. Tak peduli setinggi apa tanjakananya, berjalanlah dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan hidup.

Ya, akhirnya aku tak sadar aku sedikit gila. Berlibur kesini dan aku bisa mendaki setinggi itu. Rasanya aku pengen pingsan karena tak percaya. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 40 kilometer jalan kaki.

Akhirnya kami pulang terpisah, ada yang naik bus, naik kerata. Sedangkan aku naik bus. Kami harus ke Surabaya terlebih dulu karena kehabisan tiket di terminal Malang.

Seperti biasa, kulit mukaku menghitam. Sensitiv sengatan UV, sedikit terbakar dan mengelupas.

Aku tak menyesal, nantinya juga akan kembali ke kulit asli. Tapi setidaknya sekarang aku belajar merawat diri dengan telaten. Aku rindu naik gunung lagi, dengan kedamaianya yang menentramkan, dengan dinginnya yang membuat rindu terasa mesra, hujan yang turun membuat syukur tak terkira, jalanan yang membuatku belajar.

Naik gunung, membuatku banyak belajar. Tentang kehidupan.

Minggu pagi dikaki Merapi

Seingatku, sejak akhir tahun 2011. Akhirnya aku diterima menjadi pengajar Gadjah Mada Mengajar.

Pengajar IPA untuk anak anak SD di sebuah dusun bernama dusun Gondang, Cangkringan, Sleman. Sebuah shelter sementara untuk anak anak korban bencana meletusnya gunung merapi. Komplekr rumah itnggal yang terbuat dari bambu dan sederhana. Sekitar 20 Km dari kampus UGM. Sebuah minggu pagi yang bahagia kuingat. Sekitar jam 07.00 pagi aku harus bersiap siap untuk melanjutkan aktivitas. Baju rapi dan tak lupa memanaskan sepeda motor. Bergegas khawatir mereka sudah menunggu. Perjalanan dari kosan ke Gondang sekitar 40 menit. Mereka para anak anak yang tinggal sementara di shelter Gondang 2 setiap minggu pagi belajar IPA bersama kami. Ada beberapa orang yang bertugas, tapi hanya beberapa yang benar datang dan mengajar. Mereka adalah anak siswa siswi SD kelas 1- 6.

Minggu pagi yang kulewatkan dengan lupa sarapan. Karena memang aku tak sempat sarapan. Meninkati embun bekas transpirasi daun tadi malam. Melewati jalanan raya yang penuh dan kadang sesak karena ada pasar dadakan. Atau beberapa temapt malah sepi tak ada yang lewat. Atau kdang kulihat beberapa pesepeda yang semangat mengayuh pedal. Minggu pagi yang kurindukan. Terkadang aku sering salah jalan, salah gang, atau salah tempat. Karena kemampuanku untuk mengingat jalan yang agak lemah. Melewati jalan yang bergelombang tajam, kelok kelok, dan fase sebuah hutan bambu yang sedikit membuatku merinding sendirian melintasinya. Beruntungnya seringkali ata truk truk besar yang berpapasan untuk membawa material pembangunan rumah.

Minggu pagi yang indah dan berbahagia. Saat merlihat mereka menunggu dengan lekat. Beberapa sudah duduk di depan rumah. Beberapa sudah mulai belajar. Mengajari mereka hal sederhana dan singkat. Fisika, kimia, dan bioogi untuk sekolah dasar. Atau kadang tentang matematika dan menggambar sebagai hiburan. Menjawab soal yang dibuat oleh beberapa teman. Bagiku mereka adalah pelapas penatku, penghiburku, dan membuatku sejuk setiap minggu. Bahagia yang tak tergantikan. Ada Tiara siswi kelas 3 yang pandai dan cerdas, ada wildan yang kreatif dan pendiam. Semua anak anak itu akan lekat dalam ingatan. Mereka yang membahagiakan.

Pagi, terkadang aku menjemput seorang anak yang berada jauh dari tempat kami belajar. Bertemu dengan ibunya, bertemu juga dengan adik kecilnya yang menggemaskan. Anak kelas 4 SD itu punya 3 orang adik. Lucu. Bahagia. Damai. Saat mereka merasa lelah, kita suka membeli cilok dengan saos abal abal dan potongan buah melon yang tidak ada rasanya bercampur dengan air gula. Tapi bagiku, bagi kita itu nikmat tiada tara. Rasa biasa yang menjadi istimewa karena kita bahagia. Penjual yang selalu tahu dan berhenti di depan gubuk kami.

Anak laki laki yang nakal dan cerdas. Mereka sangat susah diatur. Berlari dari ruang keruang. Menaiki dinding rumah yang sudah rapuh. Entah bagiamana mereka terlalu aktif dan sering kali membuatku kewalahan. Tapi itu membuatku belajar banyak.

Jujur, aku rindu. Sangat rindu. kira kira 6 bulan berjalan. Setelah hampir satu tahun berlalu. Aku memikirkan mereka, aku rindu mereka. Dan sekarang, mereka semua telah berpencar. Mendiami rumah rumah yang telah dibuatkan pemerintah buat mereka. Mereka telah pindah ke tempat yang lebih baik. Shelter yang membawa cerita di setiap minggu pagi. Burung, gunung merapi, awan, udara, cemburu melihat bahagiaku waktu itu. Hingga siang telah menjelang lelah yang bahagia aku nikmati sebagia proses berbagi dan kedewasaan yang indah.

This slideshow requires JavaScript.

Palung di sudut gedung

Palung.

Sebuah bangunan kira kira 9 X 5 meter yang ada di pojokan kampus biologi Gadjah Mada. Ruang sederhana bercat biru yang sedikit kusam. Ruang satu pintu tanpa jendela dibagian depan. Hanya terlihat rak dengan sepatu kumal berserakan di depan ruangan. Beberapa sampah plastic dan kertas yang tak jelas juntrungannya. Kini terpasang satu bangku dari semen yang telah patang sepertiga di depan ruangan itu. Berwarna abu abu. Tampak dari luar sangat berserakan. Setelah ditelisik ke dalam jangan tanya isinya seperti apa.

Pintu kayu warna biru bergambar abstrak, tempelen gambara ombak dan bertuliskan “Kelompok Studi Keluatan”. Bangunan dengan dinding yang banyak tempelan. Nuasa kelautan. Ada rak yang berisi penuh dengan buku, naskah skripsi dan sejenisnya. Hasil karya dari para mahasiswa penghuninya. Jam dinding yang cukup klasik dan kurang sepadan, diameter kecil dan bergambar ayam jago symbol dari sebuah merek penyedap rasa terkenal. Jam dinding hadiah. Kecil. Tidak berangka. Warna merah. Dan mampu menunjukan waktu. Sudut ruang yang tampak berantakan karena terlalu banyak barang. Buku, kertas, lembar bergaris, millimeter blok, leaflet, naskah proposal, foto kopian, berserakan di lantai berperlak biru kotak kotak. Tampak hidup, dan penuh. Belum lagi baju, jaket, dan beberapa jas laboratorum yang tergantung sembarangan di balik pintu kayu warna biru. Entah punya siapa, tidak beridentitas. Ruangan dengan dua lampu 15 watt dan satu lampunya pun telah mati. Di sudut belakang terlihat sebuah bilik dibalik rak specimen yang berjajar botol jam dengan berbagi macam biota didalmamnya. Di balik itu, ada semacam gudang yang penuh dengan barang lapangan. Jaring yang menjulang tinggi, ember tertata rapi dari besar hingga kecil, kompor, alat masak dan alat makan. Satu paket rak alat makan yang lengkap. Hampir hampir semua barang dapur ada didalam sana. Tapi ini bukan dapur. Bagian ruang 2X1 meter ini disebut gudang.

Belum lagi, ada hiasan menarik yang cukup membuat hidup kelautan didalam ruangan ini. Akuarium. Dua buah akuarium besar yang terletak di bagian belakang. Warna lampu biru yang membuat tanda bahwa didalam sana ada kehidupan. Anemon, Ikan nemo, kepiting, ubur, ubur, kelinci laut, alga, udang, dan karang hidup yang membuat ekosisitem sederhana ini tampak hidup dan lengkap. Akuarium laut yang memecah keheningan ruangan ini. Spesies didalamnya yang mulai tertegun dengan apa yang terjadi diruangan ini. Dengan suara percikan air saat mereka sedang berantem atau hanya sekedar bermain main di dalam sana. Suara oksigen yang tersembul dan membentuk geluembung kecil untuk kelangsungan hidup ekosisitem sederhana di akuarium itu. Terkadang, akuarium ini adalah pesona paling membahagiakan di antara barang yang lain. Mempesona.

Ruang ini namanya Palung. Istilah dari sebuah jeluk sempit dan dalam yang ada di laut dalam. Palung itu adalah sekretariatan Kelompok Studi Kelautan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Nama istimewa untuk ruang sederhana. Tapi kehidupan yang terjadi diruangan ini tak sesederhana ruangannya. Banyak cerita, banyak hikmah, dinamis, penuh intrik, dan hangat. Palung adalah tempat mahasiswa pecinta kelautan. Apapun alasannya. Apapun bentuknya. Palung menjadi magnet dan tempat tinggal sementara dari masa kemasa. Tak ada yang menghilang dari dalamnya. Hidup dan terus hidup. Dengan cerita yang berbeda beda. Tempat berbagi rasa tentang sebuah mimpi untuk Indonesia, tempat berbagi ide tentang kelautan, tempat kontribusi untuk bangsa, tempat untuk menjalin kekeluargaan, tempat untuk belajar tentang kepedulian, tempat menjadi dewasa, tempat beristirahat dari rasa penat di dalam kelas kuliah, tempat bisa merasa bahagia dan tertawa bebas, tempat meluapkan rasa yang tertekan. Palung, tempat penghidupan dari sebuah organisasi tentang cita cita besar kelutan bangsa, bumi, dan perorangan. Bertukar pikiran dari pagi hingga malam telah larut. Menjadi tempat mengkonsep cita cita.

Palung itu dalam. Sampai sampai saat seseorang telah jatuh kedalamnya mungkin akan susah untuk benar benar lupa pada tempat sederhana itu. Berantakan, kertas, produktivitas aktivitas, rapat, bergitar, bercanda, laporan, internetan, tiduran, bengong, menulis, menggeje, menulis, membaca, bernyanyi, PES, berguling guling. Semua ada dalam kemasan yang tampak indah karena semua memberi warna. Beragam dan berbeda. Bagiku palung tak hanya berwarna biru. Tapi lebih dari itu. Spektrum warnanya pun tak mampu lagi dihitung karena saking banyaknya warna yang membentuknya menjadi berarti. Kini, telah lebih dari 3 tahun aku berada dan tinggal di ruang itu. Menjadi penghuni palung. Bagiku, palung menjadi rumah kedua ku setelah kamar kosanku. Yang aku rindukan saat aku merasa bosan di kosan adalah palung. Debu, berantakan, dan tata ruang yang selalu kuingat. Palung menjadi hal yang paling kurindukan dari semua banyak hal.

Palung, palung, palung

Kelompok Studi Kelautan. Meraka yang membuat hidupku juga lebih berwarna. Keluarga besarku di Jogjakarta. Ruang sederhana yang berarti. Dari palung, semua cita cita besar, aksi sederhana, dan aksi besar untuk negeri hadir dari para mahasiswa pencinta kelautan ini.

Bukan hanya tentang cerita, bukan tentang aksi, bukan hanya tentang pencitraan, tak hanya tentang studi. Tapi lebih dari itu. Nilai, hikmah, dan pelajaran tentang berbagai hal. Kelompok Studi Kelautan, KSK Biogama UGM. Menjadi hal yang melekat dalam cerita hidup. Aku dan palung.

Gallery

Energi, laut, dan peran kecil untuk bumi Indonesia

Seberkas kata kata dari aku yang seorang Indonesia.

Bicara soal bumi tentu kita tahu bahwa bumi mempunyai banyak bentukan, salah satunya daratan, dan lautan. Manusia lebih banyak menghabiskan waktu di daratan karena kita tidak punya insang. Hubungan sebab akibat yang terjadi karena sistem yang telah Tuhan ciptakan. Bisa jadi juga karena oksigen yang terlepas diudara lebih banyak dibanding di dalam lautan. Bumi menjadi tempat favorit untuk menusia karena menyimpan apa yang kita butuhkan untuk hidup. Sederhana. Karena manusia hanya ingin hidup nyaman. Selama bermilyar milyar tahun bumi menyimpan pesona, energi, eksistensi, dan isinya untuk manusia, hewan, tumbuhan, monera, dan protista. Dan manusia, telah ditunjuk Tuhan untuk menjadi pemimpin dalam merawat bumi. Bumi tak meminta apa apa sebenarnya, hanya minta dirawat agar dia tetap sehat dan membawa manfaat optimal.

Bumi menyimpan banyak energi yang masih terpendam dalam bentuk yang bervariasi. Berdasarkan Hukum termodinamika yang disampaikan oleh Prescott Joule bahwa energy itu kekal, Dia tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Hakekatnya saat kita berkata bahwa kita kehabisan energi, sebenarnya mungkin itu tidak tepat. Kita hanya belum mampu merubah energi dari alam ke bentuk energi yang bisa kita gunakan. Pengetahuan telah mengantarkan kita pada banyak titik sumber energi. Energi identik dengan hasil dari batu bara, tambang minyak, gas alam, dan beberapa sumber lain yang berasal dari proses pengeboran tanah. Sumber yang tidak dapat diperbaharui. Pakai, berkurang, dan lalu habis. Dan Indonesia sebenarnya punya cerita lain tentang energi yang tersimpan. Dalam ruang, sejarah, pengetahuan, dan manusianya.

Indonesia. Negara yang menjadi idaman para negara di dunia dengan posisinya yang strategis, punya beribu ribu pulau, tanahnya subur, biodiversitasnya yang tak terbatas, dan budayanya yang nyentrik. Dari kelebihan itu, Indonesia mampu menjadi negara yang kaya, adil, makmur dan sentosa. Itu harapannya. Dari kondisi alamnya, tentu Indonesia menyimpan banyak energi yang patut kita optimalkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Salah satunya adalah Indonesia maritim.

Indonesia mempunyai panjang pantai 95.181 km dengan energi dan bioviversitas yang melimpah. Potensi bidang kelautan sebagai sumber energi alternatif dapat dikaji dalam berbagi hal. Bisa dari kekuatan ombak, angin, dan biotanya. Banyak potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan disana. Salah satu biota yang menjadi kandidat potensial sebagai penghasil energi biofuel ramah lingkungan dan terbarukan adalah Alga. Jenis tanaman laut sederhana yang hanya mempunyai talus dan rhizoid  mampu bereproduksi dengan cepat. Biomassa yang dihasilkan pun cukup tinggi. Komponen senyawa karbohidrat dan lemak yang tinggi dapat dijadikan referensi energi alternatif.  Minyak yang terkandung didalam alga hampir 60 % dapat menjadi sumber biodiesel. Sedangkan kandungan karbohidratnya bisa menjadi bioetanol. Hampir di setiap sisi lautan dapat ditemukan alga. Dan bukan hal yang tidak mungkin jika pemanfaatan alga sebagai biofuel dikaji dan diterapkan di Indonesia. Seandainya sepanjang pesisir pantai di aplikasikan sistem pertanian alga, maka bukan hanya mendapat pemasokan sumber energi  saja namun alga juga mampu mengurangi polusi. Alga dapat mengikat CO2 di udara lebih banyak dan lebih efektif dibandingkan tanaman tingkat tinggi di daratan. Jadi ibarat kata, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Sekali budidaya alga, energi dan polusi teratasi. Dan bukan hal yang tidak mungkin jika mendapat energi  dari alamnya sendiri.  Karena Indonesia telah maritim. Energi itu masih tersimpan didalam lautan bersama lagu nenek moyang.

Kini, saatnya memperhatikan apa itu laut. Bukan hanya sekedar menatap ombak dan pasir yang  indah. Tapi disana ada energi positif untuk masa depan bangsa. Dan kita yang muda yang berkarya. Yang muda yang mencipta masa depan.

Kita yang muda yang sebagian menjadi pelajar, mahasiswa, dan peran peran yang harus berhubungan dengan pengunaan energi yang berlebihan. Salah satunya penggunaan kertas. Untuk tugas, laporan, dan beberapa macam kebutuhan organisasi. Kita bisa menjaga lingkungan dengan cara menggunakan kertas bolak balik atau kertas bekas. Apalagi untuk bidang ilmu sains yang faktanya sering membuat proposal dan laporan penelitian yang mungkin harus berkali kali karena ada proses revisi disana. Mengurangi penggunaan kertas juga mengurangi pohon yang ditebang. Bekas, bolak balik. Bisa jadi solusi kecil untuk bumi.

Salam bahari, salam energi

.laut dan energi