Gallery

Sebuah bentuk rasa

Suatu waktu, aku mulai berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Menjabarkan rasa ataupun asa yang seperti tidak simetris. Tapi menarik, unik. Terlalu banyak bentuk yang membuat keanekaragaman melimpahi hidupku. Tentang maksud, tentang harapan, tentang keterkaitan, tentang darah yang mengalir ditubuhnya. Aku mulai sadar. Cinta memang banyak bentuknya. Ada buat banyak manusia.

Ada khawatir yang terfikir setiap kali mulai membuat jeda, diantara jarak dan waktu yang tak sama. Ada cemas yang membuat prasangka bagaimana dia menjalani hidupnya. Apakah malam ini dia tidur dengan nyenyak, apakah dia sudah menghabiskan sarapannya, apakah dia sudah membawa payung dimusim hujan kali ini, apakah dia sudah mengikat sepatunya dengan benar, apakah dia sudah menyisir rambutnya dengan rapi.

Kalau saja tanya singkatku bisa membuatnya bahagia. Aku merasa berharga. Aku ikut bahagia. Karena aku yang begitu sederhana. Bagaimana caraku menunjukan?

Ada jenis rasa yang tidak mudah untuk dikatakan, ada jenis kata benda yang tidak mampu dijabarkan, ada hal hal yang tidak mudah untuk dijelaskan. Kadang beberapa hal tidak perlu bukti mata. Hanya pertautan hati dan doa yang semoga terkabulkan.

Mungkin kami bertemu disetiap sujud yang khusyuk. Merangkai harapan untuk doa keselamatan. Menjalin rindu tentang pertemuan yang hangat diberanda atau bangku yang telah lama tidak kita singgahi bersama. Ditempat kita menjumpai mimpi masing masing.

Bagaimana aku mampu berkata kalau aku begitu ingin bertemu.

Puluhan tahun lagi, mungkin kita tidak bisa lagi berebut selimut dimalam hari. Aku tak perlu lagi menunggumu menyelesaikan sarapanmu, lalu kita bisa pergi bersama. Dalam suasana pagi yang selalu mengisi sepanjang hari.

Kita akan menjadi dewasa. Kita akan menempuh jalan kita masing masing, yang berbeda. Tapi kita punya darah yang sama, yang mempertautkan hati kita dalam doa yang sama -Semoga kau bahagia dan sukses dunia akhirat- . Kita akan selalu bertemu dalam rumah hati yang menyenangkan.

Sebuah salam rindu teramat dalam dari seorang saudaribentuk rasa

 

Gallery

Agustus, 2013

Agustus, bulan ke delapan di sistem tahun Masehi.
Agustus, katanya adalah musim kemarau.
Agustus, bagiku bulan istimewa. Apalagi tahun ini. 2013.

Saya belajar tentang banyak rasa yang tidak biasa.
Agustus diawal sekali, rasa jatuh berkeping dipersembahkan sebagai pembelajaran berharga tentang sebuah ketelitian. Kecermatan. Kecerobahan kecil yang berlaku pada keputusan besar. Ya, sekiranya saya pernah belajar bagaimana mengatasi sebuah penyesalan yang tidak seharusnya terlalu difikirkan atau menghadapi kenyataan bahwa saya telah melakukan kesalahan. Setelah itu berfikir positif tentang rencana Tuhan yang lebih baik. Terkadang belajar memang butuh kerelaan.

Usai mendung, pelangi datang sebagai kejutan. Tidak menyangka akan hadir diwaktu itu. Saya tidak yakin ini maknanya apa, yang jelas saya menjadi sedikit terobati, sebuah cerita tentang anak manusia. Terima kasih. Saya bahagia.

Hari terasa cepat dan berarti. Ramadhan. Bulan suci yang dipersembahkan Tuhan untuk hambanya dengan suka hati. Setelah itu Idul Fitri. Hari kembalinya umat muslim ke dalam fitrah dan suci. Hari memaaafkan. Saling memahami satu sama lain. Banyak orang yang tidak pernah bicara menjadi saling berkata dihari itu, yang tak pernah bersua kembali bisa saling menyapa. Indah dipandang mata. Tapi hatiku tidak sepenuhnya nyata. Ada rasa khawatir yang kututupi dari keluarga. Tapi akhirnya aku paham, semua hanya perlu dikomunikasikan dengan baik, keluarga tempat terbaik untuk bisa membagi rasa gelisah tentang hidup. Apalagi ayah ibu saudara saudari. Kerelaan mereka menjadi energi tambah untuk kerelaanku. Kasih mereka menjadi kasihku. Saya belajar tentang sebuah reaksi dipengaruhi oleh cara kita menyampaikan. Teknik komunikasi dalam menyampaikan masalah ternyata penting.

Hari kelahiran juga ada di bulan Agustus. Membuatku belajar tentang ekspetasi pada orang lain. Sebuah harapan. Sebuah impian. Kita tidak akan pernah bisa bahagia jika mengharap orang lain akan membahagiakan kita. Bahagiakanlah orang lain, maka saat itulah kita bisa merasa bahagia. Hari itu, banyak sekali rasa yang tidak dapat diterjemahkan dalam kata. Setidaknyaman apapun. Mencoba memahami menjadi obat penghilang rasa sakit yang cukup efektif. Terlepas dari itu, saya menyimpulkan dengan paksa bahwa saya bahagia di hari kelahiranku. 14 Agustus, 22 tahun “Nikmat Tuhan mana yang akan kau dustakan?”.

17 Agustus kemerdekaan Indonesia. Semangat keberanian dan kesucian bangsa mulai mengudara di berbagai tempat. Berkibar mesra dengan tiang yang menjulang. Merayakan 68 tahun, umur yang cukup tua untuk ukuran manusia. Kemerdekaan yang perlu dipertanyakan maknanya. Apakah Indonesia sudah benar benar merdeka? Menggelitik pikiran ketika saya juga bertanggung jawab untuk harus berjuang membawa kemerdekaan yang nyata untuk negeriku. Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini menjadi pekerjaan rumah setiap elemen masyarakat Indonesia.

Ujian. Tepat akhir bulan. Akhirnya kisah “pendadaran” terlewati di hari itu. Jumat yang terik, saya diuji banyak hal tentang penelitian. Tapi melegakan, semua telah terjadi pada waktunya.

Bulan agustus terlewati, diawali dengan duka, lalu ada bahagia, bimbang, lega dan lainnya. Agustus berlalu dengan banyak makna dan pelajaran.

Selamat berlalu agustus, selamat ada dalam kenangan ingatan.

Tidak pernah ada hal yang cukup menyedihkan untuk dikenang jika kita rela belajar

agustus

Gallery

Sama dan saling

ranu kumbolo

Suatu pagi disebuah kota, dua anak manusia terpaut oleh rasa yang tak berperasaan. Setidaknya membuat meraka merasa kacau, galau, dan gundah. Tapi satu hal yang pasti, rasa ini lebih sering membuat meraka bahagia. Melayang kedunia khayal, sepintas menembus kisah romantis di sebuah drama kehidupan. Rasa yang mereka sebut sebagai anugrah. Hingga suatu waktu yang tidak pasti, rasa itu tumbuh seperti bakteri tak terkendali. Memenuhi ruang di hatinya. Sampai bakteri lainpun tak mampu mendesak ruang nafasnya. Mencinta sepenuhnya.

Akhirnya meraka sama sama merindu, sama saling menunggu, sama saling menahan, sama saling memenuhi pikiran, sama saling mengkhawatirkan, sama saling mempertanyakan, sama saling menunggu untuk memulai percakapan, sama saling mengharap pertemuan, sama saling memendam perasaan, sama saling mengeja sikap yang nyaman, sama saling ingin menyapa, sama saling merasa terluka, sama saling bahagia karena rasa, sama saling menjaga, sama saling menyembunyikan, sama saling bimbang, sama saling berkamuflase, sama saling untuk tidak menyakiti, masih sama saling mencintai.

Cinta mereka sama dan berbeda dari yang lainnya. Ada rasa tapi tak saling berani mengungkapnya dengan asa. Ada rindu, tapi malu menyebutnya dengan lugu. Ada harap, tapi kadang ingin menyerah. Satu cerita yang tak biasa ku kenal. Ada cinta didua manusia sederhana.

Meraka akan tetap sama dan saling. Karena satu adalah bayangan yang lain.

Gallery

Ke’culun’an ku

Marah,

Saat aku tak mampu berkata kata lagi, tak mampu mencaci, tak mampu bicara, tak mampu bergerak, tersudut disebuah nurani yang memenjarakanku untuk tak berbuat apa apa. “Diamlah”. Begitu kata nuraniku. Menahan sebentar, hanya mampu bicara perlahan “Aku sedang marah”. Saat ada ketidakseimbangan rasa di pikiran, dihati, dan berlabuh dinurani. Tidak dalam harmoni. Dan aku hanya mampu terdiam. Mencari celah untuk memberi empati, atau sekedar toleransi.  Sekuat tenaga, begitu caraku untuk tetap nyaman dengan diriku sendiri. Meskipun terkadang aku ingin sekali membentak, berbicara dengan nada yang keras seperti orang orang. Tapi rasanya semua kata amarah tercekat ditenggorokan dan hanya mampu ku rasakan dihatiku. Sekedar bilang “hey” pun aku tak mampu. Terlihat culun memang kata orang orang.

Perlahan, detik berlalu.

Amarahku hanya mencair menjadi bentuk organik yang mengalir dari sudut mata, mengambang, merendam bola mataku. Terkadang menetes pelan, terkadang mengalir begitu banyak. Bentuk rasa yang akhirnya ku buang dari tubuhku, dari hatiku, dari perasaanku. Enyahlah rasa marah yang mencekik tenggorokan. Akhirnya amarahku luluh, tak berbentuk, menjadi cair, lalu menguap, dan pergi jauh dari diriku. Begitu aku memperlakukan marah didalam diriku. Lalu aku baru berani bicara, mencoba mencari secara logis. Saat semua menjadi lebih seimbang. Aku tak kan marah terlalu lama. Hingga akhirnya aku akan menertawakan diriku sendiri karena aku tampak begitu cengeng. Tapi begitu caraku mencairkan amarahku. Karena aku tak pernah mampu melampiaskan dengan kata tepat di depan mata manusia.

Menit berlalu, hari menjelang pagi. Aku akan bener benar menertawakan marah dan tangisanku kemaren hari. Tampak lugu dan cengeng. Lalu rasanya begitu ringan. Tersenyum. Sungging sederhana demi kelangsungan hidup yang lebih berwarna. Demi sebuah keberkahan. Demi sebuah kecintaan Tuhan. Selamat pagi. Aku tak kan menyesali ke’culun’anku yang satu ini.

Marah-Menangis-Tersenyum-Tertawa-Bahagia-Hilang ingatan.

Lucunya dunia ini saat semua telah telah menjadi ingatan. Semangat bahagia. Aku akan bersenang senang lagi.

ekpresi hati

Tabiat manusia tentang penilaian

Disebuah sore saat hujan deras dengan baju sedikit basah, aku tergopoh gopoh masuk kekantornya. Rencana aku akan konsultasi tentang proyek. Tapi kami berdiskusi tentang kemasyarakat, tentang manusia.

Satu pelajaran yang saya dapatkan

Jangan pernah heran saat orang lain tidak mengingat kebaikan kita lagi, jangan heran manusia hanya lebih suka mengingat kesalahan kita. Jangan pernah heran saat orang orang seperti itu tak lagi menyapa kita dengan baik karena kesalahan yang [katanya] sudah termaafkan. Karena itu tabiat manusia.

Jangan pernah takut dibenci.

Dulu, aku sangat takut dibenci, aku takut dijauhi oleh orang orang terdekat, aku takut disepelekan, aku takut diacuhkan. Mencoba sangat berhati hati untuk tidak melukai, tapi pada akhirnya aku pasti akan membuat salah diantara manusia yang lain. I’m not perfect.  Bukan cuma aku, dekan, rektor, presiden, menteri, bukanlah orang yang sempurna. Tapi pasti mereka semua berjuang untuk menjadi lebih baik. Hanya kita saja yang tidak tahu tentang itu.

Semenjak perbincangan itu, aku mulai paham. Aku mulai belajar untuk tidak takut lagi dibenci, tidak takut dicerca, tidak takut diolok olok, tidak takut lagi kebaikan kita tidak dihargai, tidak menghawatirkan mengenai apa yang mereka pikirkan tentangku. Ini tak kan jadi masalah untukku.

Aku tidak peduli apa yang orang katakan, apa yang orang bilang. Saat kita melakukan kebaikan bukan karena manusia, kita tak kan pernah kehilangan nilainya. Kebaikan itu muncul karena keinginan nurani kita sendiri. Karena kesadaran kemanusiaan dan kehambaan yang membuat kita melakukannya. Bukan hanya untuk pencitraan, bukan untuk membuat kesan.

Yang bisa menilai kita dengan baik hanya Sang Pemilik.

Jadi, jangan pernah takut diacuhkan. Jangan pernah takut dibenci. Teruslah berjalan dan memperbaiki diri dari segala sisi. Sekuat tenaga, semampu kita.

Aku tidak heran lagi, begitulah tabiat manusia sebenarnya. Aku pun juga pasti punya sifat ini didalam diriku. Lebih suka mengingat kejelekannya.

Jadi janganlah takut melangkah saat kita tidak disukai lagi.

Lihat saja, presiden kita. Dicerca, dicaci maki, dibenci, dimurkai, diolok olok karena kesalahnnnya. Kita mungkin tidak pernah mencoba membayangkan bagaimana beratnya memikirkan sebuah negara yang carut marut. Membenahi salah satu sisi, dan lupa membenarkan sisi yang lain. Orang akan melihat sisi yang lain yang tidak dikerjakan “Dasar presiden tidak becus”. Terkadang kita juga begitu. Arogan.

Kita tidak pernah mambayangkan dan menempatkan posisi kita di diposisinya. Ini yang namanya tidak punya empati. Jangan pernah tanyakan empati kita dimana? Disini (dinurani bukan dihati). Kita semua punya. Kita semua bersamanya. Tapi dia kita kubur dengan tumpukan gengsi, keduniawian, kedengkian, sombong dan iri yang memuncak.

Akhirnya aku mulai paham dan belajar, aku tidak lagi memohon jangan benci aku, jangan acuhkan aku.

Bahkan aku sekarang tidak terlalu peduli penilaian orang tentang aku. Terima kasih mungkin bisa jadi masukan yang baik saat kita mendapat nilai jelek. Terima kasih atas penilaian yang baik, itu sebenarnya hanya hal kecil dan bukan apa apa dibanding orang orang yang jauh lebih baik dariku. Dan aku bukan siapa siapa.

Satu hal yang membuang buang waktu adalah memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita.

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah Yang Maha Mendengan lagi Maha Mengetahui (10:65)

Gallery

Selamat berpisah

Setiap yang datang, pasti juga akhirnya akan pergi. Setiap yang dipinjamkan, pasti juga akan diambil lagi. Setiap apa yang katanya menjadi milik kita, pasti juga akan kembali pada Yang Maha Memiliki. Begitu aku menangkap makna dari segala asa tentang cerita kita.

Hingga akhirnya, kaupun harus pergi ketempat yang seharusnya. Menjadi bukan “milikku” lagi, menjadi bukan yang kunanti. Serasa sebentar sekali pertemuan kita ini, hanya tiga tahun lebih. Berbagi cerita, berbagi resah, berbagi gundah, berbagi bahagia, berbagi segalanya. Dan kau, tak pernah peduli dengan ketidakpatutanku. Tapi mungkin cuma sampai disini.

Bukan lagi tentang senja, yang kukira kita akan bertemu lagi karena hari hanya berubah menjadi petang. Tapi ini sudah tengah malam. Hari akan berganti beberapa menit lagi, begitupun kau. Kau pergi dan aku mendapatkan pengganti. Ini tak kan pernah sama. Hanya tentang penghiburan dan kepentingan.

Melihatmu menjadi renta dan terluka karena keegoisanku, membuatku sendu. Tapi buat apa sendu merayu?

Dunia terlalu dinamis untuk tetap bersedih hati, dunia terlalu tidak pasti untuk menyerah ditengah jalan, dunia terlalu kecil untuk meresahkan hal hal sepele, dunia terlalu bulat untuk berfikir kotak [menjadi egois], dunia terlalu fleksibel untuk membuat kita takut melangkah, dunia terlalu ramai untuk membuat kita merasa kesepian, dunia terlalu rapuh untuk membuat kita menjadi pengecut, dunia terlalu sempit untuk menjadi sebuah tujuan.

Dan kau, hadir [mungkin] sebentar bagiku. Tapi kita telah punya makna, berkarya, menyapa, melihat dunia, mencurahkan cerita, membuka pengetahuan. Terima kasih Tuhan menghadirkanmu dalam duniaku.

Selamat tinggal, selamat berpisah.

Aku tak pernah kehilanganmu, karena kamu sejatinya bukanlah milikku. Kau pinjaman dari Tuhan untuk menemani perjuanganku.

Laptop Hp Pavillion DV2 kesayanganku yang telah renta dan tidak bisa digunakan.

 ***

“Kita tak pernah kehilangan apa apa, karena kita tak pernah menanam apa apa” (SOE HOK GIE)

 go on

kekekalan [energi] rasa

Mulai bisa membebaskan, mulai bisa memerdekakan, mulai sanggup melepaskan, mulai bisa hanya mengenang,mulai bisa merelakan. Ada sebagian rasa yang tidak pernah hilang. Karena dia masih terikat hukum kekekalan energi. Dan rasa, tidak pernah bisa diciptakan dan dihancurkan. Hanya mampu merubah wujud. Yang sederhana menjadi tidak sederhana, dan yang tidak sedehana menjadi sederhana. Begitu seterusnya, merubah wujud menjadi hal yang baru, berbeda, dan tidak kita sangka. Begitulah alam, terlalu dinamis untuk tetap dalam satu bentuk yang tidak semestinya. Semua akan kembali dalam wujud yang seharusnya.

DSC01098

Gallery

Menikah?

married

Menikah.
Memang agak aneh kalau aku bicara tentang menikah. Tapi, entah kenapa aku senang sekali mempelajari hal ini, dari segala seluk beluk awal mulai persiapan pernikahan sampai menjadi istri dan ibu. Karena menurutku ini penting. Penting untuk mempersiapkan diri jauh jauh hari.

Semester delapan, sebentar lagi hampir lulus. Semenjak awal semester materi kajian yang aku ikuti sebagian besar tentang persiapan pernikahan sampai bagaimana berumah tangga. Tiap pekan bersama teman teman mentoring membedah buku soal rumah tangga sampai mendidik anak. Awalnya terdengar sedikit tabu dan malu malu. Tapi lama lama aku terbiasa. Toh aku juga sudah dewasa. Lebih dari 21 tahun. Ya, bersama teman teman kami mempelajari banyak hal. Saling diskusi mengenai bagaimana membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Secara teori. Kayak udah siap aja? Haha ya, semuanya memang harus dipersiapkan dengan baik. Aku merencanakan mungkin 3-4 tahun lagi aku akan menikah. Tapi kalau memang jodohku datang sebelum itu. Tidak masalah, aku percaya semua akan terjadi pada waktu yang tepat dan telah ditentukan. Lalu dengan siapa? kalau itu aku tak tahu. Tidak terbanyang siapa orangnya.

Menikah.

Saat dua orang manusia menjadi satu jiwa. Dua karekter yang membangun sebuah bangunan berwarna. Keduanya tidak harus sama. Bisa saja berbeda. Tapi keduanya merelakan dirinya untuk memberi ruang pengertian untuk pasangannya. Menikah adalah sebuah tanggung jawab besar. Perempuan merelakan dirinya sepenuhnya karena Tuhan untuk mengabdi pada orang lain yang baru dikenalnya. Sang laki laki bertanggung jawab atas manusia baru kedalam hidup. Tak ada hubungan darah, bukan siapa siapa tapi bisa bersama. Keren sekali. Itu yang dimaksud dengan kekuasaan Tuhan tentang pernikahan. Ini yang dimaksud dengan kebesaran Tuhan atas sebuah cinta pada manusia. Keren sekali dua orang yang berbeda, dua kepala, dua karakter, tapi bisa bersama saling mengerti selama bertahun tahun. It’s awesome.

Istri bertugas mendidik anak, dan suami bertugas mencari nafkah. Begitu seharusnya. Tapi masa sekarang malah banyak yang kebalikannya, sang istri kerja keras atau menjadi TKW sedangkan suami yang mengurus anak.

Kakak perempuanku juga pernah menasehatiku “Jangan mau menikah sama laki laki yang menikahimu karena kemandirianmu”. Aku mengerti maksudnya.

Suami adalah pemimpin, dan istri adalah manager. Begitu perannya.

Ibu pernah bilang “belajarlah dari orang orang disekitarmu“. Sekarang aku mulai mengerti dan paham. Aku mulai mengamati dan belajar rumah tangga Ibu, bulek, budhe, semua mempunyai pola dan caranya sendiri sendiri. Dan nanti aku juga punya cara sendiri.

Paling penting untuk dipelajari dan dicontoh adalah rumah tangga Rasulullah. Aku paling mengidolakan Khadijah. Kisah beliau sangat menginspirasi. Perempuan hebat, berpengaruh, pemberani, penuh kasih, dan berkharisma. Perempuan hebat yang mendampingi laki laki hebat, sampai sampai malaikat Jibril menyampaikan salam padanya. Teringat saat cerita Khadijah menenangkan Rasullulah yang sedang ketakutan saat awal masa kenabian. Mulia sekali beliau (perempuan) ini.

Menikah.

Bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan biologis. Bukan hanya untuk melanjutkan keturunan. Bukan hanya untuk menyandarkan hidup pada seorang suami. Tapi ini adalah sunah yang membuat jalan menuju surga. Bersama sama. Saling memberikan ketentraman dan kasih sayang, saling jalan bersama untuk mendekat kepada Tuhan. Indah sekali.

Aku pikir terlalu banyak yang harus aku tulis jika aku mengurai semua yang aku tahu tentang pernikahan. Aku suka mempelajari ini.

Dan tentang jodoh, katanya kita dan jodoh kita akan jalan beriringan secara keimanan. Bahasa gampanganya sekufu. Kita lima langkah lebih kedepan, makan dia (jodoh kita) juga akan melakukan hal yang sama. Maka ikhtiar kita saat kita menginginkan jodoh yang baik adalah membuat diri kita menjadi lebih baik lagi. Selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi. Percaya Tuhan juga akan membuat jodoh kita menjadi lebih baik.

Islam juga mengajarkan cara yang baik dan benar dalam usaha menemukan jodoh, dan lalu bisa menikah. Bukan pacaran. Tapi Taaruf. Seperti yang sedang Murobbi ku jalani. Ceritanya menarik sekali. Hanya menggunakan proposal singkat yang diberikan pada biro yang bersangkutan dan lain sebagainya. Mereka kebanyakan akan bertemu dengan orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Aku tak terbayang dengan jalan ceritaku selanjutnya. Bagaimana aku bertemu dengan jodohku. Mungkin dia adalah temanku sendiri, yang dekat, yang jauh, yang baru dikenal, yang kulupa namanya, atau mungkin dia yang sama sekali belum pernah ku kenal sebelumnya, dia ada diantara milyaran laki laki muslim di dunia. Entah siapapun itu, aku tidak terlalu mau tahu. Semua akan indah pada waktunya. Dengan cara yang baik pula.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21).

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits).

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26).

Gallery

Kisah Pam Pam

Seorang teman tiba tiba mengatakan Pam Pam.
Pam Pam? kata yang tak asing. Seperti pernah ada ditumpukan buku paling bawah.

Ingatan ini kusebut kenangan.

Laki laki kecil berbadan kurus dengan mata yang agak sendu. Namanya Teguh Pamudji. Teman teman sering memanggilnya Pam Pam. Nama yang aneh menurutku. Waktu itu juga kebetulan sedang hits  lagu Indonesia dengan syair  “pam pam pam pam cuap cuap”. Tentang Pam Pam tiba tiba terkenang lagi. Bukan karena apa apa, tapi karena aku teringat masa kecilku yang ku kenang bahagia. Laki laki nakal dari sekolah sebelah, SD N 2. Dia tinggal jauh dari rumahku dan kita berada di sekolah yang berbeda. Aku sekolah di SD 3. Terigat tentang dia berarti teringat tentang kepolosanku saat aku disukai seorang laki laki. Malu sekali.

Waktu itu aku masih berumur 10 tahun, duduk di kelas empat. Ada acara peringatan hari Kartini di kecamatan. Ibu guru mencari delegasi untuk lomba puisi antar Sekolah Dasar. Hingga akhirnya terpilihlah aku. Latihan beberapa kali harus aku jalani di ruang yang berbeda setiap kali selesai sekolah. Bekerja keras membuat mimik yang pas. Tiba tanggal 21 April, aku sampai ke kecamatan, bertemu dengan lawan lawan yang tak biasa dari sekolah yang berbeda. Salah satu lawanku adalah Pam Pam.  Aku tidak ingat betul bagaiman perkenalan kami. Yang jelas aku tidak mau tahu waktu itu. Ya, seperti biasa kami berlomba membacakan puisi tentang kartini sebaik baiknya. Aku kenal beberapa teman baru, dan lalu aku aku akan lupa siapa namanya setelah sampai disekolah.

Beberapa hari kemudian, seorang teman sepermainan yang sekolah di tempat yang sama dengan Pam Pam mengabariku
Kamu dicariin lho sama Pam pam“.
” Siapa itu”
Itu lho yang lomba pusi bareng sama kamu, dia perwakilan SD2 “

Kejadian macam apa ini? Mungkin orang akan menyebutnya cinta monyet pertamaku. Tapi sepertinya tidak bagiku. Aku menganggapnya  musibah waktu itu.

Entah bagaimana semua bisa terjadi tiba tiba seluruh anak di sekolah berusaha menjodohkanku dengan Pam Pam. Menyebalkan. Beberapa pertandingan di kecamatan membuat sekolahku dengan sekolahnya bertemu. Begitu pula pertemuan aku dan Pam Pam. Terpaksa. Menjengkelkan. Aku selalu lari terbirit birit saat dia berusaha mendekatiku. Setiap kali mengikutiku dari belakang dengan kawanannya keliling gedung, hingga mengurungkan niatku untuk membeli jajan di gerbang depan. Saking malesnya ketemu dengannya. Dia dengan seenaknya membuat berita antar sekolah bahwa dia menyukaiku. Akhirnya perjodohan antar sekolah mulai digelar. Para siswa adik angkatan, kakak angkatan, guru delegasi, semua tahu berita ini. Anak kelas tiga, empat, lima, enam, atau kadang anak ingusan kelas dua dan satu ikut ikutan. Aku malu setengah mati. Setiap hari ku dengar, teman temanku menyampaikan salam dari Pam Pam. Kisah cinta yang konyol sekali. Jujur, aku takut ikut lomba lagi, aku takut pertemuan ini.

Tidak hanya di sekolah, ditempat mengajipun sama. Aku mengaji sehabis waktu Ashar sekitar jam 3.30 sore di tempat yang lumayan jauh dari rumah. Ayah menyuruhku untuk mengaji disana karena gurunya pintar dalam bahasa arab. Dan tahukah tempatnya dimana? Ya, di dekat rumah Pam Pam. Celakalah aku. Dengan sepeda aku berangkat bersama teman temanku. Ada beberapa teman Pam Pam yang mengaji disana juga. Kecuali dia. Alhamdulililah. Tapi sama saja. Nama Pam Pam seolah mimpi buruk yang terus menghantuiku, menakut – nakutiku untuk bergerak kemana saja. Aku takut setiap kali mungkin akan bertemu dengannya di ujung jembatan, dipengkolan, dipertigaan, atau diperempatan jalan. Hingga setiap kali aku pulang mengaji aku tak mau sendiri. Beberapa kali saat pulang aku melihatnya di ujung jalan, aku lalu putar balik dan rela melewati kuburan yang menyeramkan dibanding bertemu dengannya. Mengayuh sepedaku sekencang mungkin, berharap dia tidak akan menggodaku lagi atau mengejarku dari belakang. Ketakutan yang berlebihan dari perempuan kecil yang takut disukai.

Dan lalu, akhirnya di tahun berikutnya adik perempuanku pindah sekolah. Tiga kali pindah sekolah akhirnya dia sekolah di tempat Pam Pam. SD2. Pam pam, nama itu tak hanya meracuni kisahku di Sekolah, di tempat mengaji. Tapi juga dia meracuni adikku. Betapa menyebalkannya anak ingusan yang baru masuk sekolah baru sudah ditemui olehnya di penjual makanan pinggir sekolah. Suatu siang,
” Eh, kamu nurul yaa? ”
Adikku masih kecil ingusan setengah mati, sedang jajan bersama teman teman barunya. Waktu itu dia kelas satu SD. Pam Pam menanyainya dengan sok pemberani dan menitipkan salam untukku. Lalu siang harinya aku dan adikku bertemu dirumah.

Celaka. Adikku juga menyampaikan salam dari Pam Pam kepadaku. Aku benci sekali sama laki laki itu. Semenjak itu, Pam Pam juga sering menyampaikan pesan pesan tidak jelas pada adikku. Hingga setiap kali aku berantem dengan adikku dia punya senjata andalan yang membuatku mati kutu atau kalah berperang
” Mba pacare  Pam Pam”  sambil menjulurkan lidahnya. Aku jelas ketakutan. Aku jelas menyerah. Aku jelas tidak bisa berkutik. Aku jelas kalah. Bahkan seluruh isi rumahku digambari dengan tulisan ” Fatimah love Pam Pam” sambil di bungkus dengan gambar hati diluarnya. Di tembok, di dinding kamarku, di kursi, didapur, di buku buku pelajaranku. Hampir kalimat itu bertebaran berceceran tak beraturan di rumah. Membosankan. Bagaimana bisa seorang Pam Pam berhasil membuat semua  menjadi seperti ini. Hingga pernah suatu siang aku tidak berani keluar rumah karena Pam Pam beserta teman teman gengnya mengujungi rumahku. Di ujung halaman dia mengintip intip rumahku. Aku langsung mengunci rumah, menutup korden, dan tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk dia datang kerumahku. Lucu sekali. Di dalam rumah aku hanya marah marah, berjalan kesana kemari diruang tengah, tidak ada ayah tidak ada Ibu. Takut sekali rasanya kalau saja dia mampu menjebol rumahku. Konyol tingkat lanjut.
Adikku berkata ” gak papa lah mba, aku keluar yaa”
Aku hanya bisa mengancam, kalo dia keluar aku tak kan mau main bersamanya lagi. Selamanya.
Adikku sok tahu sekali, padahal yang ia tahu cuma makan dan beberapa mainan.

Berkali kali aku menghindarinya. Berjuang untuk tidak bertemu dengannya. Perasaan cinta yang sederhana dari seorang Pam Pam yang nakal. Lucu sekali saat dikenang. Aku begitu lugu dan polos. bebrapa tahun setelah aku lulus Sekolah Dasar, orang orang masih suka menyampaikan salamnya untukku. Hingga setelah itu ayah merenovasi rumah dan mengecat ulang. Jelas, tulisan tulisan konyol itu telah hilang.

Pam Pam menjadi dewasa. Mungkin sekarang dia sudah tahu bagaimana cara mencintai yang baik, tanpa membuat perempuan takut lari terbirit birit. Atau aku yang sudah tahu bagimana cara menyikapi seseorang yang mencintaiku. Saat Sekolah Menengah Pertama aku sempat melihatnya di bus kota dua kali. Aku tak pernah menyapa. Begitu ceritaku yang membuat kenangan.

Mencintai itu adalah hak asasi manusia. Setiap orang punya hak untuk mencintai kita. Dan kita juga punya hak untuk tidak mencintainya.ilustrasi