Lawu dibulan September

This slideshow requires JavaScript.

Kali ke dua saya mendaki gunung, terpilih Lawu.

Gunung lawu berada diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketinggian 3265mdpl dengan tiga rute pendakian. Saya hanya melewati dua rute, Berangkat melalui Candhi Cetho, dan pulang melalui Cemoro Sewu. Perjalanan saya kali ini cukup singkat dibanding mendaki Semeru. Petualangan gila dengan teman teman dimulai sore tanggal 6 September 2013.

Petualangan ini dimulai dari sebuah inisiatif ringan dari seorang teman, lalu akhirnya berlanjut pada aksi nyata kita bersama. Berangkat mengendarai sepeda motor dari Yogyakarta ke Candi Cetho. Tim kami ada 12 orang. Enam orang berangkat dari Yogyakarta ada aku, Ridho Lestari, Arum Ambarwati, Andi Mahendra, Toufik Heri Wibowo, dan Fikri Fauzi Firdaus. Lalu enam orang lagi Zisky Ma’rufi dan teman teman sekolahnya di Malang. Perbekalan yang cukup, dan satu baju ganti cukup untuk mendaki gunung Lawu.

Pendakian Lawu dari Candi Cetho menurut saya lebih “gila” dibandingkan pendakian Semeru sampai camp Kalimati. Pendakian kali ini banyak sekali jalanan menanjak. Hampir mungkin semua perjalanan punya elevasi >10. Seperti biasa, ladang, hutan, jurang, awan, dan cukup panas. Musim kemarau menjadikan perjalanan terasa terik dibeberapa bagian. Jalanan menanjak dengan berbagai medan, tanah, batuan, hingga tanal lembut yang berdebu. Rute yang kami ambil jarang sekali digunakan para pendaki, ini lebih lama 2 kali lipat dibanding dari Rute Cemoro Sewu. Medan juga lebih berat. Katanya rute ini yang biasa digunakan para anggota Kopasus untuk latihan. Saya baru tahu setelah berada di tengah perjalanan. Pendakian dimulai pukul 09.00 pagi. Secara fisik, aku cukup kuat dan tidak terlalu payah karena dibarengi dengan kondisi psikis dan mental yang siap. Jadi saya cukup menikmati pendakian “gila” ini. Jalan mendaki berjam jam, jarak antar pos yang sangat jauh, tidak ada pendaki lain kecuali kami. Perjalanan kami pelan, sering istirahat, berhenti untuk masak makanan atau minuman, dan solat di sepanjang jalan setapak. Jujur saja aku agak takut melakukan perjalanan pada suasana petang, tapi pendakian yang cukup jauh dan terjal memaksa kami hanya mampu sampai di Pos 4 tepat saat senja. Rencana kami terkikis sedikit demi sedikit karena perjalanan yang berat diluar ekspetasi kami. Di pos 4 kami berencana ngecamp, tapi setelah berpikir ulang tentang kondisi geografis yang sempit dan pemandangan savana di Pos 5 membuat kami semangat untuk melanjutkan perjalanan, meski hari sudah petang. Dalam hati kecil paling dalam, saya sangat takut. Aku mencoba mengatasi ketakutanku dengan berfikir positif.

Sudah menjadi rahasia para pendaki kalau gunung Lawu adalah salah satu gunung paling angker. Aura mistis lebih kuat. Perjalanan malam itu hanya bermodal senter di kepala. Seorang teman yang menjadi leader atau pembuka jalan beberapa kali merasakan merinding. Tapi untungnya saya tidak melihat apa apa. Katanya disana juga ada pasar setan yang biasa orang bicarakan. Beberapa kali kami terhenti untuk memulihkan tenaga. Indahnya senja dilihat dari gunung sangat mengagumkan. Dinginnya malam di atas awan sangat menggelitik tulang. Lampu lampu kota dibawah terlihat lebih kecil dibanding bintang dilangit atas kepala kami. Belum lagi semburat gradasi warna jingga dan biru yang berebut untuk saling berpadu, melukis langit agar bisa kita lihat. Dan bulan sabit yang malu malu memantulkan cahaya ke bumi. Petang. Keindahan alam, aroma udara, rasa syukur, dan kekuatan Tuhan  yang membuat saya tidak takut terus berjalan. Bersama meraka juga.

Ya, akhirnya kami sampai di pos 5 (sebuah padang rumput) tepat pukul 8 malam. Membagi tim dalam kelompok kerja, membangun tenda, membuat api dan memasak air panas. Aku kebagian membuat kopi dan teh hangat untuk mereka. Dingin angin gunung waktu itu sangat menusuk. Tangan serasa membeku, bahkan aku tidak lagi mampu merasakan pipiku sendiri. Mungkin suhu sudah <5 C. Saya terkapar, panas yang terik dan mata yang kotor karena debu membuat saya harus meminum obat. Ya, angin gunung yang dingin menemani malam mingguku.

Awalnya kami berencana untuk menikmati sunrise dipuncak. Tapi dinginnya yang menusuk dan lelah yang berlipat mendegredasi semangat kami. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pada pukul 08.00 pagi.  Cukup panjang dan terik. Puncak sudah di depan mata tapi kami harus memutar. Hingga sampai di Hargo Ndalem pukul 10.00. Di sana ada surga bernama warung makan “Mbok Yem”. Surga, minum teh hangat makan nasi telor dan sayur dan tertidur di tikar berdebu.  Ada banyak pendaki yang singgah, ibaratnya seperti barak. Mereka bergeletakan tidur pulas dengan atap rumah. Pemandangan yang belum pernah kulihat.  Kami juga melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Hargo Dumilah dan Hargo Dumilih. Puncak diketinggian 3265 mdpl. Bahagianya aku waktu itu.

Syukur tak terkira, aku bisa menikmati ciptaanNya yang satu ini. Aku seperti di atas awan atau silent hill. Dibawahku isinya hanyalah kabut dan awan. Angin juga berhembus cukup kencang waktu itu. Tidak bisa berkata kata. Aku tidak pernah menyesal mendaki sejauh dan setinggi ini.

Setelah itu, kami turun melalui rute Cemoro Sewu pukul 14.00. Hampir sebagian besar medan adalah undakan batu. Sengaja dibuat. Batu besar dan kecil saling berpadu menahan kaki kami, harus hati hati agar tidak keseloa, harus teliti agar tidak salah menapak. Turunan cukup terjal. Tapi sebenarnya saya lebih lincah di jalan turunan.

Diantara kami ada yang senternya mati, kaki keseleo, dan kelelahan. Kami menikmati perjalanan hingga senja berlalu. Malam. Beberapa diantara kami terpisah jarak yang jauh. Kami mengalami kejadian horor masing masing. Ada temanku yang diikuti suara langkah kaki yang tidak ada wujudnya, dan melihat sebuah abu abu yang entah itu apa atau hanya pikiranku saja aku tidak tahu pasti. Saya tidak mau memastikannya. Setelah itu saya tidak lagi memainkan senterku kesegala arah.

Sampai di cemoro sewu pukul 08.00 malam. Beristirahat dan melanjutkan perjalanan bis 1 jam menuju Candi Cetho. Sampai di kosan pukul 03.00 pagi tanggal 09 September 2013.

Melelahkan. Mengasyikan. Belajar. Menikmati. Keindahan. Kepedulian. Ketagihan. Semua ada dalam perjalanan panjang ini. Mendaki gunung seperti candu yang menggoda kita untuk lagi dan lagi. Angin gunung, dingin, kedamaian, ketentraman, keindahan yang tidak dapat didapatkan di kota. Rasa syukur dengan bahagia atas kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kami menikmati ciptaanNya, belajar.

Lawu di bulan September.

Yogyakarta, September 2013

One thought on “Lawu dibulan September

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s