Gallery

Agustus, 2013

Agustus, bulan ke delapan di sistem tahun Masehi.
Agustus, katanya adalah musim kemarau.
Agustus, bagiku bulan istimewa. Apalagi tahun ini. 2013.

Saya belajar tentang banyak rasa yang tidak biasa.
Agustus diawal sekali, rasa jatuh berkeping dipersembahkan sebagai pembelajaran berharga tentang sebuah ketelitian. Kecermatan. Kecerobahan kecil yang berlaku pada keputusan besar. Ya, sekiranya saya pernah belajar bagaimana mengatasi sebuah penyesalan yang tidak seharusnya terlalu difikirkan atau menghadapi kenyataan bahwa saya telah melakukan kesalahan. Setelah itu berfikir positif tentang rencana Tuhan yang lebih baik. Terkadang belajar memang butuh kerelaan.

Usai mendung, pelangi datang sebagai kejutan. Tidak menyangka akan hadir diwaktu itu. Saya tidak yakin ini maknanya apa, yang jelas saya menjadi sedikit terobati, sebuah cerita tentang anak manusia. Terima kasih. Saya bahagia.

Hari terasa cepat dan berarti. Ramadhan. Bulan suci yang dipersembahkan Tuhan untuk hambanya dengan suka hati. Setelah itu Idul Fitri. Hari kembalinya umat muslim ke dalam fitrah dan suci. Hari memaaafkan. Saling memahami satu sama lain. Banyak orang yang tidak pernah bicara menjadi saling berkata dihari itu, yang tak pernah bersua kembali bisa saling menyapa. Indah dipandang mata. Tapi hatiku tidak sepenuhnya nyata. Ada rasa khawatir yang kututupi dari keluarga. Tapi akhirnya aku paham, semua hanya perlu dikomunikasikan dengan baik, keluarga tempat terbaik untuk bisa membagi rasa gelisah tentang hidup. Apalagi ayah ibu saudara saudari. Kerelaan mereka menjadi energi tambah untuk kerelaanku. Kasih mereka menjadi kasihku. Saya belajar tentang sebuah reaksi dipengaruhi oleh cara kita menyampaikan. Teknik komunikasi dalam menyampaikan masalah ternyata penting.

Hari kelahiran juga ada di bulan Agustus. Membuatku belajar tentang ekspetasi pada orang lain. Sebuah harapan. Sebuah impian. Kita tidak akan pernah bisa bahagia jika mengharap orang lain akan membahagiakan kita. Bahagiakanlah orang lain, maka saat itulah kita bisa merasa bahagia. Hari itu, banyak sekali rasa yang tidak dapat diterjemahkan dalam kata. Setidaknyaman apapun. Mencoba memahami menjadi obat penghilang rasa sakit yang cukup efektif. Terlepas dari itu, saya menyimpulkan dengan paksa bahwa saya bahagia di hari kelahiranku. 14 Agustus, 22 tahun “Nikmat Tuhan mana yang akan kau dustakan?”.

17 Agustus kemerdekaan Indonesia. Semangat keberanian dan kesucian bangsa mulai mengudara di berbagai tempat. Berkibar mesra dengan tiang yang menjulang. Merayakan 68 tahun, umur yang cukup tua untuk ukuran manusia. Kemerdekaan yang perlu dipertanyakan maknanya. Apakah Indonesia sudah benar benar merdeka? Menggelitik pikiran ketika saya juga bertanggung jawab untuk harus berjuang membawa kemerdekaan yang nyata untuk negeriku. Membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini menjadi pekerjaan rumah setiap elemen masyarakat Indonesia.

Ujian. Tepat akhir bulan. Akhirnya kisah “pendadaran” terlewati di hari itu. Jumat yang terik, saya diuji banyak hal tentang penelitian. Tapi melegakan, semua telah terjadi pada waktunya.

Bulan agustus terlewati, diawali dengan duka, lalu ada bahagia, bimbang, lega dan lainnya. Agustus berlalu dengan banyak makna dan pelajaran.

Selamat berlalu agustus, selamat ada dalam kenangan ingatan.

Tidak pernah ada hal yang cukup menyedihkan untuk dikenang jika kita rela belajar

agustus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s