Gallery

Ke’culun’an ku

Marah,

Saat aku tak mampu berkata kata lagi, tak mampu mencaci, tak mampu bicara, tak mampu bergerak, tersudut disebuah nurani yang memenjarakanku untuk tak berbuat apa apa. “Diamlah”. Begitu kata nuraniku. Menahan sebentar, hanya mampu bicara perlahan “Aku sedang marah”. Saat ada ketidakseimbangan rasa di pikiran, dihati, dan berlabuh dinurani. Tidak dalam harmoni. Dan aku hanya mampu terdiam. Mencari celah untuk memberi empati, atau sekedar toleransi.  Sekuat tenaga, begitu caraku untuk tetap nyaman dengan diriku sendiri. Meskipun terkadang aku ingin sekali membentak, berbicara dengan nada yang keras seperti orang orang. Tapi rasanya semua kata amarah tercekat ditenggorokan dan hanya mampu ku rasakan dihatiku. Sekedar bilang “hey” pun aku tak mampu. Terlihat culun memang kata orang orang.

Perlahan, detik berlalu.

Amarahku hanya mencair menjadi bentuk organik yang mengalir dari sudut mata, mengambang, merendam bola mataku. Terkadang menetes pelan, terkadang mengalir begitu banyak. Bentuk rasa yang akhirnya ku buang dari tubuhku, dari hatiku, dari perasaanku. Enyahlah rasa marah yang mencekik tenggorokan. Akhirnya amarahku luluh, tak berbentuk, menjadi cair, lalu menguap, dan pergi jauh dari diriku. Begitu aku memperlakukan marah didalam diriku. Lalu aku baru berani bicara, mencoba mencari secara logis. Saat semua menjadi lebih seimbang. Aku tak kan marah terlalu lama. Hingga akhirnya aku akan menertawakan diriku sendiri karena aku tampak begitu cengeng. Tapi begitu caraku mencairkan amarahku. Karena aku tak pernah mampu melampiaskan dengan kata tepat di depan mata manusia.

Menit berlalu, hari menjelang pagi. Aku akan bener benar menertawakan marah dan tangisanku kemaren hari. Tampak lugu dan cengeng. Lalu rasanya begitu ringan. Tersenyum. Sungging sederhana demi kelangsungan hidup yang lebih berwarna. Demi sebuah keberkahan. Demi sebuah kecintaan Tuhan. Selamat pagi. Aku tak kan menyesali ke’culun’anku yang satu ini.

Marah-Menangis-Tersenyum-Tertawa-Bahagia-Hilang ingatan.

Lucunya dunia ini saat semua telah telah menjadi ingatan. Semangat bahagia. Aku akan bersenang senang lagi.

ekpresi hati

One thought on “Ke’culun’an ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s