Tabiat manusia tentang penilaian

Disebuah sore saat hujan deras dengan baju sedikit basah, aku tergopoh gopoh masuk kekantornya. Rencana aku akan konsultasi tentang proyek. Tapi kami berdiskusi tentang kemasyarakat, tentang manusia.

Satu pelajaran yang saya dapatkan

Jangan pernah heran saat orang lain tidak mengingat kebaikan kita lagi, jangan heran manusia hanya lebih suka mengingat kesalahan kita. Jangan pernah heran saat orang orang seperti itu tak lagi menyapa kita dengan baik karena kesalahan yang [katanya] sudah termaafkan. Karena itu tabiat manusia.

Jangan pernah takut dibenci.

Dulu, aku sangat takut dibenci, aku takut dijauhi oleh orang orang terdekat, aku takut disepelekan, aku takut diacuhkan. Mencoba sangat berhati hati untuk tidak melukai, tapi pada akhirnya aku pasti akan membuat salah diantara manusia yang lain. I’m not perfect.  Bukan cuma aku, dekan, rektor, presiden, menteri, bukanlah orang yang sempurna. Tapi pasti mereka semua berjuang untuk menjadi lebih baik. Hanya kita saja yang tidak tahu tentang itu.

Semenjak perbincangan itu, aku mulai paham. Aku mulai belajar untuk tidak takut lagi dibenci, tidak takut dicerca, tidak takut diolok olok, tidak takut lagi kebaikan kita tidak dihargai, tidak menghawatirkan mengenai apa yang mereka pikirkan tentangku. Ini tak kan jadi masalah untukku.

Aku tidak peduli apa yang orang katakan, apa yang orang bilang. Saat kita melakukan kebaikan bukan karena manusia, kita tak kan pernah kehilangan nilainya. Kebaikan itu muncul karena keinginan nurani kita sendiri. Karena kesadaran kemanusiaan dan kehambaan yang membuat kita melakukannya. Bukan hanya untuk pencitraan, bukan untuk membuat kesan.

Yang bisa menilai kita dengan baik hanya Sang Pemilik.

Jadi, jangan pernah takut diacuhkan. Jangan pernah takut dibenci. Teruslah berjalan dan memperbaiki diri dari segala sisi. Sekuat tenaga, semampu kita.

Aku tidak heran lagi, begitulah tabiat manusia sebenarnya. Aku pun juga pasti punya sifat ini didalam diriku. Lebih suka mengingat kejelekannya.

Jadi janganlah takut melangkah saat kita tidak disukai lagi.

Lihat saja, presiden kita. Dicerca, dicaci maki, dibenci, dimurkai, diolok olok karena kesalahnnnya. Kita mungkin tidak pernah mencoba membayangkan bagaimana beratnya memikirkan sebuah negara yang carut marut. Membenahi salah satu sisi, dan lupa membenarkan sisi yang lain. Orang akan melihat sisi yang lain yang tidak dikerjakan “Dasar presiden tidak becus”. Terkadang kita juga begitu. Arogan.

Kita tidak pernah mambayangkan dan menempatkan posisi kita di diposisinya. Ini yang namanya tidak punya empati. Jangan pernah tanyakan empati kita dimana? Disini (dinurani bukan dihati). Kita semua punya. Kita semua bersamanya. Tapi dia kita kubur dengan tumpukan gengsi, keduniawian, kedengkian, sombong dan iri yang memuncak.

Akhirnya aku mulai paham dan belajar, aku tidak lagi memohon jangan benci aku, jangan acuhkan aku.

Bahkan aku sekarang tidak terlalu peduli penilaian orang tentang aku. Terima kasih mungkin bisa jadi masukan yang baik saat kita mendapat nilai jelek. Terima kasih atas penilaian yang baik, itu sebenarnya hanya hal kecil dan bukan apa apa dibanding orang orang yang jauh lebih baik dariku. Dan aku bukan siapa siapa.

Satu hal yang membuang buang waktu adalah memikirkan apa yang orang pikirkan tentang kita.

Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah Yang Maha Mendengan lagi Maha Mengetahui (10:65)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s