Gallery

Hujan bulan Juni

rain and chair

Saat ternyata hujan masih mengguyur bumi di bulan Juni. Ada yang tak biasa dari tingkah alam yang membuat resah seketika. Tidak seperti biasanya di bulan juni masih ada hujan.

Dua manusia itu masih duduk terdiam di bangku sederhana. Masing masing masih asyik berbicara dengan dirinya sendiri. Memahami perasaanya sendiri dengan egois. Duduk berjauhan di tepi bangku yang berbeda, tapi perasaan mereka ada yang sama. Senada. Seirama. Seharmoni.

Dan siang ini, saat rintik mulai datang lagi mereka saling pandang dengan tatapan mata rangkaian seri. Tepat. Ada rasa yang terkatakan. Kini ke-diam-an ini mulai pecah. Karena dalam waktu yang lama mereka saling memahami suatu hal yang sama dalam cara pandang yang berbeda. Cinta.

Hanya batin dan perasaan yang membuat mereka mampu saling komunikasi.

Kini mereka mencoba saling berkata dalam bahasa manusia. Bahasa verbal dalam abjad A sampai Z. Yang mengandung arti tak sekedar ilusi. Bicaralah pada waktu yang tepat, karena masa depan itu tak pasti. Tidak ada makna yang mampu dipahami dengan benar oleh dua manusia itu. Karena mereka asyik sendiri.

Perempuan itu  mulai bicara
“Bukankah tidak seharusnya hujan datang dibulan juni?”

“Bukankah tidak seharusnya angin membawanya kesini lagi ?” laki laki itu balik bertanya.

Saling bertanya, tak saling menjawab. Tidak ada yang patut disalahkan ketika hujan datang lagi. Mereka berdua masih seperti itu, menanyakan dan menjawab pertanyaannya sendiri. Tak ada yang memberi jawaban pasti atas semuanya. Angin, mendung, massa air, kelembaban, suhu. Alam yang mengaturnya sendiri. Dan mereka menikmatinya sendiri sendiri.

Jangan tanyakan kenapa aku masih ada disini”.  Keduanya berkata pada hatinya masing masing. Tak ada yang bisa membohongi hati karena jatuh cinta tidak bisa memilih. Dan hujan jatuh ditempat yang disepakati oleh hukum alam.

Mereka jatuh berkali kali ditempat yang sama. Mungkinkah karena disana memang tempat untuknya tinggal atau karena ketidakmampuannya untuk berdiri dan pergi?

Kali ini, waktu telah berlalu beberapa musim. Mereka masih juga tak mampu membuat janji. Tak mampu yakin akan tetap disini. Saling ragu untuk tinggal. Hanya rasa yang membuatnya tetap bertahan disini.

Tidak ada yang pasti kecuali kalau awan bisa berhenti berkondensasi. Dan air tak lagi berevaporasi. Tapi angin masih saja datang, suhu masih sering berubah, kelembaban tak stabil, dan energi perlu berganti wujud. Musim menjadi tidak pasti. Bumi terlalu dinamis.

Mereka tak pernah bertanya lagi kenapa ada hujan di bulan Juni.
Mereka hanya mencoba mengalir dengan takdir.

Mereka masih duduk ditempat yang sama. Menikmati rintik bulan juni yang sama. Melihat mata yang sama. Memiliki perasaan yang sama.

Tapi aku tak yakin mereka bisa bersama selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s