Gallery

Menikah?

married

Menikah.
Memang agak aneh kalau aku bicara tentang menikah. Tapi, entah kenapa aku senang sekali mempelajari hal ini, dari segala seluk beluk awal mulai persiapan pernikahan sampai menjadi istri dan ibu. Karena menurutku ini penting. Penting untuk mempersiapkan diri jauh jauh hari.

Semester delapan, sebentar lagi hampir lulus. Semenjak awal semester materi kajian yang aku ikuti sebagian besar tentang persiapan pernikahan sampai bagaimana berumah tangga. Tiap pekan bersama teman teman mentoring membedah buku soal rumah tangga sampai mendidik anak. Awalnya terdengar sedikit tabu dan malu malu. Tapi lama lama aku terbiasa. Toh aku juga sudah dewasa. Lebih dari 21 tahun. Ya, bersama teman teman kami mempelajari banyak hal. Saling diskusi mengenai bagaimana membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Secara teori. Kayak udah siap aja? Haha ya, semuanya memang harus dipersiapkan dengan baik. Aku merencanakan mungkin 3-4 tahun lagi aku akan menikah. Tapi kalau memang jodohku datang sebelum itu. Tidak masalah, aku percaya semua akan terjadi pada waktu yang tepat dan telah ditentukan. Lalu dengan siapa? kalau itu aku tak tahu. Tidak terbanyang siapa orangnya.

Menikah.

Saat dua orang manusia menjadi satu jiwa. Dua karekter yang membangun sebuah bangunan berwarna. Keduanya tidak harus sama. Bisa saja berbeda. Tapi keduanya merelakan dirinya untuk memberi ruang pengertian untuk pasangannya. Menikah adalah sebuah tanggung jawab besar. Perempuan merelakan dirinya sepenuhnya karena Tuhan untuk mengabdi pada orang lain yang baru dikenalnya. Sang laki laki bertanggung jawab atas manusia baru kedalam hidup. Tak ada hubungan darah, bukan siapa siapa tapi bisa bersama. Keren sekali. Itu yang dimaksud dengan kekuasaan Tuhan tentang pernikahan. Ini yang dimaksud dengan kebesaran Tuhan atas sebuah cinta pada manusia. Keren sekali dua orang yang berbeda, dua kepala, dua karakter, tapi bisa bersama saling mengerti selama bertahun tahun. It’s awesome.

Istri bertugas mendidik anak, dan suami bertugas mencari nafkah. Begitu seharusnya. Tapi masa sekarang malah banyak yang kebalikannya, sang istri kerja keras atau menjadi TKW sedangkan suami yang mengurus anak.

Kakak perempuanku juga pernah menasehatiku “Jangan mau menikah sama laki laki yang menikahimu karena kemandirianmu”. Aku mengerti maksudnya.

Suami adalah pemimpin, dan istri adalah manager. Begitu perannya.

Ibu pernah bilang “belajarlah dari orang orang disekitarmu“. Sekarang aku mulai mengerti dan paham. Aku mulai mengamati dan belajar rumah tangga Ibu, bulek, budhe, semua mempunyai pola dan caranya sendiri sendiri. Dan nanti aku juga punya cara sendiri.

Paling penting untuk dipelajari dan dicontoh adalah rumah tangga Rasulullah. Aku paling mengidolakan Khadijah. Kisah beliau sangat menginspirasi. Perempuan hebat, berpengaruh, pemberani, penuh kasih, dan berkharisma. Perempuan hebat yang mendampingi laki laki hebat, sampai sampai malaikat Jibril menyampaikan salam padanya. Teringat saat cerita Khadijah menenangkan Rasullulah yang sedang ketakutan saat awal masa kenabian. Mulia sekali beliau (perempuan) ini.

Menikah.

Bukan hanya sekedar pemenuhan kebutuhan biologis. Bukan hanya untuk melanjutkan keturunan. Bukan hanya untuk menyandarkan hidup pada seorang suami. Tapi ini adalah sunah yang membuat jalan menuju surga. Bersama sama. Saling memberikan ketentraman dan kasih sayang, saling jalan bersama untuk mendekat kepada Tuhan. Indah sekali.

Aku pikir terlalu banyak yang harus aku tulis jika aku mengurai semua yang aku tahu tentang pernikahan. Aku suka mempelajari ini.

Dan tentang jodoh, katanya kita dan jodoh kita akan jalan beriringan secara keimanan. Bahasa gampanganya sekufu. Kita lima langkah lebih kedepan, makan dia (jodoh kita) juga akan melakukan hal yang sama. Maka ikhtiar kita saat kita menginginkan jodoh yang baik adalah membuat diri kita menjadi lebih baik lagi. Selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi. Percaya Tuhan juga akan membuat jodoh kita menjadi lebih baik.

Islam juga mengajarkan cara yang baik dan benar dalam usaha menemukan jodoh, dan lalu bisa menikah. Bukan pacaran. Tapi Taaruf. Seperti yang sedang Murobbi ku jalani. Ceritanya menarik sekali. Hanya menggunakan proposal singkat yang diberikan pada biro yang bersangkutan dan lain sebagainya. Mereka kebanyakan akan bertemu dengan orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Aku tak terbayang dengan jalan ceritaku selanjutnya. Bagaimana aku bertemu dengan jodohku. Mungkin dia adalah temanku sendiri, yang dekat, yang jauh, yang baru dikenal, yang kulupa namanya, atau mungkin dia yang sama sekali belum pernah ku kenal sebelumnya, dia ada diantara milyaran laki laki muslim di dunia. Entah siapapun itu, aku tidak terlalu mau tahu. Semua akan indah pada waktunya. Dengan cara yang baik pula.

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21).

“Jadilah istri yang terbaik. Sebaik-baiknya istri, apabila dipandang suaminya menyenangkan, bila diperintah ia taat, bila suami tidak ada, ia jaga harta suaminya dan ia jaga kehormatan dirinya” (Al Hadits).

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur 26).

One thought on “Menikah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s