Gallery

Kisah Pam Pam

Seorang teman tiba tiba mengatakan Pam Pam.
Pam Pam? kata yang tak asing. Seperti pernah ada ditumpukan buku paling bawah.

Ingatan ini kusebut kenangan.

Laki laki kecil berbadan kurus dengan mata yang agak sendu. Namanya Teguh Pamudji. Teman teman sering memanggilnya Pam Pam. Nama yang aneh menurutku. Waktu itu juga kebetulan sedang hits  lagu Indonesia dengan syair  “pam pam pam pam cuap cuap”. Tentang Pam Pam tiba tiba terkenang lagi. Bukan karena apa apa, tapi karena aku teringat masa kecilku yang ku kenang bahagia. Laki laki nakal dari sekolah sebelah, SD N 2. Dia tinggal jauh dari rumahku dan kita berada di sekolah yang berbeda. Aku sekolah di SD 3. Terigat tentang dia berarti teringat tentang kepolosanku saat aku disukai seorang laki laki. Malu sekali.

Waktu itu aku masih berumur 10 tahun, duduk di kelas empat. Ada acara peringatan hari Kartini di kecamatan. Ibu guru mencari delegasi untuk lomba puisi antar Sekolah Dasar. Hingga akhirnya terpilihlah aku. Latihan beberapa kali harus aku jalani di ruang yang berbeda setiap kali selesai sekolah. Bekerja keras membuat mimik yang pas. Tiba tanggal 21 April, aku sampai ke kecamatan, bertemu dengan lawan lawan yang tak biasa dari sekolah yang berbeda. Salah satu lawanku adalah Pam Pam.  Aku tidak ingat betul bagaiman perkenalan kami. Yang jelas aku tidak mau tahu waktu itu. Ya, seperti biasa kami berlomba membacakan puisi tentang kartini sebaik baiknya. Aku kenal beberapa teman baru, dan lalu aku aku akan lupa siapa namanya setelah sampai disekolah.

Beberapa hari kemudian, seorang teman sepermainan yang sekolah di tempat yang sama dengan Pam Pam mengabariku
Kamu dicariin lho sama Pam pam“.
” Siapa itu”
Itu lho yang lomba pusi bareng sama kamu, dia perwakilan SD2 “

Kejadian macam apa ini? Mungkin orang akan menyebutnya cinta monyet pertamaku. Tapi sepertinya tidak bagiku. Aku menganggapnya  musibah waktu itu.

Entah bagaimana semua bisa terjadi tiba tiba seluruh anak di sekolah berusaha menjodohkanku dengan Pam Pam. Menyebalkan. Beberapa pertandingan di kecamatan membuat sekolahku dengan sekolahnya bertemu. Begitu pula pertemuan aku dan Pam Pam. Terpaksa. Menjengkelkan. Aku selalu lari terbirit birit saat dia berusaha mendekatiku. Setiap kali mengikutiku dari belakang dengan kawanannya keliling gedung, hingga mengurungkan niatku untuk membeli jajan di gerbang depan. Saking malesnya ketemu dengannya. Dia dengan seenaknya membuat berita antar sekolah bahwa dia menyukaiku. Akhirnya perjodohan antar sekolah mulai digelar. Para siswa adik angkatan, kakak angkatan, guru delegasi, semua tahu berita ini. Anak kelas tiga, empat, lima, enam, atau kadang anak ingusan kelas dua dan satu ikut ikutan. Aku malu setengah mati. Setiap hari ku dengar, teman temanku menyampaikan salam dari Pam Pam. Kisah cinta yang konyol sekali. Jujur, aku takut ikut lomba lagi, aku takut pertemuan ini.

Tidak hanya di sekolah, ditempat mengajipun sama. Aku mengaji sehabis waktu Ashar sekitar jam 3.30 sore di tempat yang lumayan jauh dari rumah. Ayah menyuruhku untuk mengaji disana karena gurunya pintar dalam bahasa arab. Dan tahukah tempatnya dimana? Ya, di dekat rumah Pam Pam. Celakalah aku. Dengan sepeda aku berangkat bersama teman temanku. Ada beberapa teman Pam Pam yang mengaji disana juga. Kecuali dia. Alhamdulililah. Tapi sama saja. Nama Pam Pam seolah mimpi buruk yang terus menghantuiku, menakut – nakutiku untuk bergerak kemana saja. Aku takut setiap kali mungkin akan bertemu dengannya di ujung jembatan, dipengkolan, dipertigaan, atau diperempatan jalan. Hingga setiap kali aku pulang mengaji aku tak mau sendiri. Beberapa kali saat pulang aku melihatnya di ujung jalan, aku lalu putar balik dan rela melewati kuburan yang menyeramkan dibanding bertemu dengannya. Mengayuh sepedaku sekencang mungkin, berharap dia tidak akan menggodaku lagi atau mengejarku dari belakang. Ketakutan yang berlebihan dari perempuan kecil yang takut disukai.

Dan lalu, akhirnya di tahun berikutnya adik perempuanku pindah sekolah. Tiga kali pindah sekolah akhirnya dia sekolah di tempat Pam Pam. SD2. Pam pam, nama itu tak hanya meracuni kisahku di Sekolah, di tempat mengaji. Tapi juga dia meracuni adikku. Betapa menyebalkannya anak ingusan yang baru masuk sekolah baru sudah ditemui olehnya di penjual makanan pinggir sekolah. Suatu siang,
” Eh, kamu nurul yaa? ”
Adikku masih kecil ingusan setengah mati, sedang jajan bersama teman teman barunya. Waktu itu dia kelas satu SD. Pam Pam menanyainya dengan sok pemberani dan menitipkan salam untukku. Lalu siang harinya aku dan adikku bertemu dirumah.

Celaka. Adikku juga menyampaikan salam dari Pam Pam kepadaku. Aku benci sekali sama laki laki itu. Semenjak itu, Pam Pam juga sering menyampaikan pesan pesan tidak jelas pada adikku. Hingga setiap kali aku berantem dengan adikku dia punya senjata andalan yang membuatku mati kutu atau kalah berperang
” Mba pacare  Pam Pam”  sambil menjulurkan lidahnya. Aku jelas ketakutan. Aku jelas menyerah. Aku jelas tidak bisa berkutik. Aku jelas kalah. Bahkan seluruh isi rumahku digambari dengan tulisan ” Fatimah love Pam Pam” sambil di bungkus dengan gambar hati diluarnya. Di tembok, di dinding kamarku, di kursi, didapur, di buku buku pelajaranku. Hampir kalimat itu bertebaran berceceran tak beraturan di rumah. Membosankan. Bagaimana bisa seorang Pam Pam berhasil membuat semua  menjadi seperti ini. Hingga pernah suatu siang aku tidak berani keluar rumah karena Pam Pam beserta teman teman gengnya mengujungi rumahku. Di ujung halaman dia mengintip intip rumahku. Aku langsung mengunci rumah, menutup korden, dan tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk dia datang kerumahku. Lucu sekali. Di dalam rumah aku hanya marah marah, berjalan kesana kemari diruang tengah, tidak ada ayah tidak ada Ibu. Takut sekali rasanya kalau saja dia mampu menjebol rumahku. Konyol tingkat lanjut.
Adikku berkata ” gak papa lah mba, aku keluar yaa”
Aku hanya bisa mengancam, kalo dia keluar aku tak kan mau main bersamanya lagi. Selamanya.
Adikku sok tahu sekali, padahal yang ia tahu cuma makan dan beberapa mainan.

Berkali kali aku menghindarinya. Berjuang untuk tidak bertemu dengannya. Perasaan cinta yang sederhana dari seorang Pam Pam yang nakal. Lucu sekali saat dikenang. Aku begitu lugu dan polos. bebrapa tahun setelah aku lulus Sekolah Dasar, orang orang masih suka menyampaikan salamnya untukku. Hingga setelah itu ayah merenovasi rumah dan mengecat ulang. Jelas, tulisan tulisan konyol itu telah hilang.

Pam Pam menjadi dewasa. Mungkin sekarang dia sudah tahu bagaimana cara mencintai yang baik, tanpa membuat perempuan takut lari terbirit birit. Atau aku yang sudah tahu bagimana cara menyikapi seseorang yang mencintaiku. Saat Sekolah Menengah Pertama aku sempat melihatnya di bus kota dua kali. Aku tak pernah menyapa. Begitu ceritaku yang membuat kenangan.

Mencintai itu adalah hak asasi manusia. Setiap orang punya hak untuk mencintai kita. Dan kita juga punya hak untuk tidak mencintainya.ilustrasi

2 thoughts on “Kisah Pam Pam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s