Surat kecil untuk ayah

Namanya Rena. Perempuan biasa denga perasaan yang luar biasa.
Surat kecil yang ditulis untuk ayah yang susah dimengerti oleh dirinya.  Tapi ia sangat mencintainya.

“Ayah. Asal engkau tau saja, Kau adalah laki laki paling cerdas dimataku yang pernah kukenal dekat. Aku sangat bangga. Aku mencintaimu dengan sangat. Ayah menjadi sosok yang aku selalu tuangkan dalam doaku.

Dan aku berharap sekarang. Kita bersama duduk disini berbicara tentang banyak hal. Lebih lama. Lebih hangat bersama keluarga.

Apa salahnya, saat aku ingin berbicara dengan cara orang dewasa denganmu.  Apa salahnya aku ingin menjadi orang yang perhatian padamu? Berbincang tentang apa yang ingin kutau. Sekedar menjadi lebih dekat, lebih erat.  Salahkah aku yang hanya ingin menunjukan cintaku. Memahamimu dengan segala banyak hal tentangmu? Aku hanya mencintaimu dengan sangat. Dan aku ingin menunjukan itu. Aku hanya ingin membuatmu bangga dan lalu kau…

Ayah. Bolehkah dengarkan aku sebentar saja. Aku ingin bicara kita semua. Ayah. Bolehkah aku mengisi hidupku dengan mencintaimu dengan baik. Ayah. Bolehkah aku hanya ingin sekedar lebih erat disisimu. Ayah. Aku tidak minta apa apa. Aku hanya ingin berada disisimu dengan nyaman. Ayah. Jangan marah. Aku hanya ingin berada disini lebih lama dan lebih baik. Itu saja. Ayah. Jaga dirimu dengan baik. Ayah. Aku hanya tak tau menunjukan cintaku bagaimana baiknya. Kalau aku salah, ayah jangan pergi. Aku tau engkaupun sebenarnya menangis. Bukan marah. Ayah. Jangan menghindar. Ayah. Menjadilah tegar. Ayah. Jangan menyerah. Aku bahkan tak pernah menyerah. Ayah, lihatlah aku dengan senyummu. Lalu aku akan berusaha membuatmu tersenyum juga. Ayah. Jangang bersedih, aku bahkan menjadi amat sedih saat kau menjadi sedih. Ayah jangan marah. Kumohon. Ayah. Maafkan aku. Maaf dengan sangat. Ayah. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Ayah. Aku tau kau juga mencintaiku. Ayah. Ayah. Ayah.

Ayah. Bisakah kita bicara baik baik. Bicara dengan kasih. Ayah. Bicaralah. Aku mencintaimu dengan sangat. Ayah. Berikan aku kesempatan untuk menunjukan cintaku. Ayah. Duduklah disini bersama. Bersamaku. Bersama meraka. Bersama kita”

Surat yang terselip diantara rintik hujan. Bersama doa, bersama rasa, bersama harap. Surat surat yang hanya akan terselip untuk dibaca pada waktu yang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s