Frustasi Tingkat Tinggi

Tertanggal, 14 januari 2012. Tepat pukul 2:37 pm. Aku berada disuatu tempat perasingan dan mulai menulis keluh kesah ini.

Tulisan sangat tidak penting.

Ceritanya aku sedang frustasi. Frustasi tingkat akut. Bagaimana rasanya?
Otakkku mendidih kepanasan, dan darahku seakan menjadi tercampur dengan beberapa kerikil tajam yang menyakitkan kulitku. Mataku mulai memebesar dan keluar tak karuan. Melotot kepedean. Rasanya hampir hampir aku akan bunuh diri. Terjun dari lantai tujuh dan terbang bebas biar aku bisa lupa ingatan, lalu aku tak mengikuti ujian besok. Atau, aku akan menyewa orang bayaran dengan harga tinggi untuk menggantikanku di bangku ujian. Gila.  Semacam film Hollywood. Sakit ini melebihi sakit orang yang sedang patah hati.

Frustasi tingkat bebal ini menggerogoti sebagian kejiwaanku dengan cepat. Aku mulai muntah darah dan tubuhku juga terbakar. Muntah semuntah muntahnya. Bahkan semua makanan keluar sampai aku tak punya tenaga lagi. Menghadapi masalah matematika yang tak bisa kuselesaikan dengan sempurna. Sempurna? Menyelesaikan sedikit saja belum bisa apalagi sempurna.Keadaan ini membuatku semakin hilang arah. Siapa yang mampu membantuku. Mencari seorang biksu tong kemana mana dan tak kunjung ku temukan. Kebarat, ketimur, keselatan, keutara. Kemanakah biksu tong berada? Bahkan pasukan yang suka menuju kebaratpun tiba tiba menghilang dari peredaran. Apakah dunia akan kiamat sekarang? Kemana mereka?

Aku seperti kurcaci yang dicocok hidungnya, menagis dijalanan, dan berharap induknya datang. Lalu aku melihat awan melalui kaca. Rasanya ingin kujotoskan tinjuku dengan keras dan ku akan menjadi juara dunia sebagi perempuan paling pemberani. Pemberani apa maksudnya? Entahlah.

Baiklah. Otakku agak salah kali ini. Ada sesuatu yang menggerogot gila di dalam sana. Mereka adalah kalkulus dan sedikit perkumpulan beberapa rumus dari bapak Einstein dan Archimides yang juga sama tidak warasnya karena kepala mereka digerogoti angka dan angka yang kulihat sama sekarang. Tapi beruntungnya, mereka jadi lebih terkenal. Sedangkan aku menjadi makin gila sendirian.

Adakah yang salah dengan otakku. Ya, kayaknya otak bagian depanku, tepatnya yang berfungsi sebagai pemikir logis agak gak beres. Mungkin, karena aku memang sering sakit dibagian situ. kemampuan logisku mengalami degenerasi? Oh wow? Sepertinya tidak mungkin itu terjadi. Aku harap tak ada hubungannya. Selama aku mampu berfikir, berarti otak metematikaku juga bisa diajarin untuk maju. Nyatanya aku masih bisa ngitung duit dengan pas. Ngitungin hutang orang orang dengan benar. Trus kenapa aku sekarang masih muntah muntah belajar kalkulus? Adakah yang salah dengan duniaku? Kenapa aku tidak bisa berdamai dengan mereka, sang angka dan rumus tak hingga. Oke kali ini aku benar benar hampir terjun kelantai sebelas saja. Biar aku gagar otak, dan otakku akan mengalami perbaikan disana. Gila.

Aku ingin menangis sekencang kencangnya dijalanan. Bodo amat mereka melihatku gimana. Aku gak peduli. Naik motor dan nangis kayak orang cengeng. Biarin. Ijinkan saya menjadi orang cengeng satu kali ini saja. Plis. Aku nangis. Aku bête. Aku ngeluh. Dan Aku sangat amat frustasi.

Timbul pemikiran. Atau aku ujiannya nyontek aja? Nyontek? Masih jaman nih nyontek ujian? Gak lah yau. Trus apa aku harus diskusi sama temen sebelah? Diskusi? Brisik. Belum tentu juga mereka bener. Oke jalan satu satunya ya Cuma aku sendiri. Belajar.

Ya. Baiklah. Aku akan berdamai dengan diriku sendiri. Berdamai dengan ketidakmampuanku untuk memerlukan waktu lebih lama memahami kalkulus. Memahami angka dari sebuah teori teori tekanan dan relativitas. Yap, satu satunya cara adalah aku harus berdamai. Karena damai itu indah. Damai itu menenangkan. Damai itu mamapu menguasai diri. Oke. Aku mencoba bernafas lebih lega dengan ketidakmampuanku memahami itu. Aku belajar perlahan dan berdamai dengan semua pengetahuan. Aku tidak membenci siapapun. Aku tidak menghindari siapapun. Aku menerima semuanya dengan hati yang lapang. Hati yang bahagia. Aku akan belajar bahagia dengan mereka yang awalnya aku benci setengah mati. Hei kalkulus, hei fisika dasar. Kita temenan ya. Aku menerima kalian apa adanya. Jadi kuharap kalian juga menerimaku apa adanya. Maka kita akan saling menguntungkan. Mungkin saja ilmu kalian akan bisa aku manfaatkan dengan baik di lain waktu. Kalian jelas beruntung kan, kalau aku bisa paham. Aku akan bisa mengusekan kalian dalam kemanfaatan. Insya Allah deh. Oke. Marilah kita berjabat tangan dan saling memanfaatkan. Aku dan kalian.

Ya, cara kita untuk bisa mengendalikan semua menjadi lebih baik adalah dengan cara berdamai dengan keadaan. Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan yang kita benci.

14 Januari 2012. Pukul 3:49 pm.

Tertanda tangan pihak pertama Agustin Fatimah dan pihak kedua Kalkulus dan fisika dasar. Berdamai secara sah diatas janji setia untuk berdamai dengan cara yang indah. Akan hidup sejalan dan sepaham. Saling memberi manfaat dan menguntungkan. Damai. Tenang. Ikhlas.

SAH.

#Mari belajar lagi lebih giat. Lebih fokus. Lebih ikhlas. Lebih bersemangat. Lebih Tentram. Lebih tulus. Lebih bahagia. Aku mencintaimu karena Allah hei kalkulus dan fisika (sedikit gombal).

photo0172 photo0265

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s