parking please..

Melihat jalanan kota tampak berbeda nyata dengan jalanan di kota sederhana ataupun desa. Tapi sepertinya banyak budaya yang telah saling menularkan dari desa ke kota ataupun dari kota ke desa. Kendaraan yang semakin bejibun dan tidak terkendali jumlahnya. Hampir mungkin setiap rumah pasti mempunyai sepeda motor. Baik di desa ataupun di kota.  Menurutku faktor bisa karena harga motor yang semakin gampang dan terjangkau. Bayangkan saja, dengan uang 500ribu sudah bisa membawa pulang motor baru(kredit maksudnya). Yap, budaya ini tampaknya sedikit banyak mempengaruhi juga adanya lahan pekerjaan baru bagi pengangguran yang suka santai santai. Tukang  Parkir. Sekarang ini dimana mana parkir, parkir dimana mana. Ditrotoar jadi lahan parkir, di badan jalan jadi parkiran, di halaman toko sebelah lahan parkir konsumen sebelahnya. Di deket sungai parkir. Parkir sukanya dimana mana. Dan tentu saja dimana mana sekarang bayar parkir. Di atm parkir, di warteg parkir, di fotokopian parkir, di burjo parkir. Setiap kali motor berhenti pasti bayar parkir. Fenomena ini bisa terjadi karena banyak faktor pendukung, ekonomi, politik, bisnis, sosial kemasyarakatan, dan keamanan.

Banyak pengangguran yang bingung dengan nasib hidupnya, maka jalan paling gampang beli jaket warna orange dan senter. Lalu berdiri menunggu motor motor datang. Sosial yang sudah membudaya dengan para tukang parkir itu punya hak mendapat uang setelah menjaga  dan yang menurutku tidak semua tukang parkir benar benar menjaganya dan bertanggung jawab. Dan banyak hal yang membuat semakin maraknya fenomena ini. Jumlah kendaraan yang terlalu banyak, dan lahan parkir umum yang sempit, pengganguran yang juga  banyak.

Tukang parkir itu bukan sebuah profesi yang jahat, menyebalkan dan hina. Sebenarnya itu profesi yang mulia. Menjaga dan mengamankan harta benda orang lain. Tanggung jawabnya juga besar.  Tukang parkir itu baik selama itu masih dalam koridor logika, etika dan sosial masyarakat yang seimbang. Maksud aku, selama emang itu wajar. Ya, bayangkan saja ketika aku makan di burjo, kendaraan parkir di depan mata. Trus apakah perlu ada tukang parkir yang ikut menjaga dan lalu meminta bayar? Atau saat aku fotocopi soal 500 rupiah dan aku harus bayar parkiran kendaraan yang padahal masih bisa kujaga sendiri. Mungkin ini hal sepele. Tapi menurut aku budaya ini penting untuk dibenahi.  Aku fikir ada sesuatu yang mengganjal dari budaya ini. Belum lagi karena banyaknya kendaraan, sampai sampai tak ada lagi lahan untuk parkir. Di kompleks pertokoaan, hampir pasti sering macet karena mobil dan motor parkir di badan jalan dan bahkan sudah melewati lahan trotoar.

Dan aku , adalah orang yang tidak terlalu suka dengan semua unsur tentang “parkir”. Terkadang aku harus menyiapkan perasaan untuk mencoba ikhlas. Aku lebih suka memberi pengemis dijalanan dibanding bayar parkir. Sesekali pernah  merasa geram saat emang seharusnya tidak ada “parkir”. Mungkin in kecil, tapi ini cukup berpengaruh terhadap mental masyarakat Indonesia. Makna antara hak dan kewajiban. Dan para tukang parkir yang baik harusnya mampu mengatur parkir dengan baik pula, bukan hanya sekedar berdiri, melihat, dan lalu minta bayaran. Bahkan menolong mengeluarkan kendaraan dari kerumunanpun enggan. Sepertinya perlu ada penyuluhan pemerintah mengenai  standarisasi kualitas tukang parkir atau standarisasi area/kompleks berparkir. Setidaknya agar tukang parkir juga tidak asal menyuruh parkir di trotoar seenaknya atau berprofesi seenaknya juga.

Belajar banyak dari pemahaman parkir, tukang parkir, dan lahan parkir. Terutama belajar tentang ikhlas.

P1020396

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s