Dibalik air

 

Image

Wanita itu, berdiri sendiri dilautan. Diantara bukit bukit yang mengelilinginya. Mungkin dia bisa menaiki bukit bukit itu dan bertahan disana untuk mengalangi dirinya dari udara dingin. Sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dari salah satu bukit dan mengarungi lautan. Dia yakin akan menemukan bukit tempatnya menghabiskan hidup di depan sana. Dengan angin, dengan ombak, dengan deru suara yang mencekik telinga dia hanya berharap pada satu jalan yang dia pilih. Dia akan menyelam dan mencari apa yang harusnya dia cari. Menyelam sendiri. Hanya keyakinan, keberanian, dan tekat yang dia punya. Dan hanya Allah yang bisa dia jadikan pegangan. Mencari arah yang benar dengan kompas dan bintang. Kemampuannya masih dalam tahap belajar. Dia hanya ingin hijrah. Berpindah dari zona yang sebelumnya. Tapi ternyata tak mudah. Fitnah. Keterbatasan. Waktu. dan Penilaian orang yang sebenarnya menjadi hal yang harus dia hadapi. Bagaimanapun di tengan laut yang ia pilih akan ada angin yang lebih kencang. Mungkin dia akan lebih sering jatuh tersungkur karena tubuhnya yang kurus terombang ambing oleh angin laut dan angin laut yang sering datang bergantian. Dan sebenarnya. Harusnya dia gak peduli. Dan memang harusnya seperti itu. Memahami lagi rute di dalam air. Mencari nafas. Dan tetap mencari udara untuk bernafas. Dia kini sendiri, merantau kelautan yang tak pernah dia lalui, tapi dia tau sejarahnya. Mungkin itu modal dia untuk tetap kukuh kesana. Sehingga dia hanya berdoa kepada Tuhannya “lindungilah aku dari segala fitnah di dunia, dan tak ada yang mengerti hatiku, kecuali Engkau. Teguhkan aku, Berikan aku keberanian untuk tetap teguh melewati jalan ini” Dia mencari rombongan kawan yang bisa membantunya mencari jalan. Dan tak semudah yang dia kira ternyata. Banyak kata yang tak bisa tersampaikan. Tak pernah ada yang bisa mengerti hatinya. Karena kawanan itu bukan Tuhan. Bagaimanapun dia akan tetap menyelam sekenanya. Semampunya, hingga Tuhan memampukannya lebih dari ini. Memampukan dia untuk tetap berjalan di dalam air.
Sekarang, dia mulai suka dengan perairan. Mungkin sesekali dia merindukan daratan. Merindukan aroma tanah. Melihat senja sepenuhnya. Dan sekarang dia harus punya hati yang kuat. Punya nafas yang panjang. Agar dia tetap bisa berada disana. Berjuanglah. Tuhan akan memudahkan. Tapi yang jelas, saat dia semakin dalam menyelam. Tekanan akan semakin besar. Itu resiko yang pasti terjadi. Jadi harus menyiapkan segala halnya. Dan jangan takut. 
Perempuan itu berdiri di salah satu tepi karang yang telah mati.
Sendiri, dan berdoa dalam hati. Lindungi aku dari bahaya lahir dan batin.
Kini tak ada yang bisa benar benar mengerti dirinya. Lalu dia menulisa surat kepada Tuhan. Menulis harapan. Menulis resah. Menulis ketakutan. Menulis segala hal yang ada dihatinya. Hanya dia dan Tuhannya yang tau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s