Jogja, Angkringan

Image

yogyakarta, 19 oktober 2011.

angkringan : tempat makan sederhana yang nikmat

Malam itu, sekitar tanggal 13 oktober 2011. Aku ingin mencoba makan di tempat yang belum pernah aku coba. Tempat itu orang katakan angkringan. Aku sendirian. Sekitar pukul 7 malam. Ini kali pertama aku makan di angkringan. “The true angkringan” and “True ngangkring“. Tidak dengan siapapun, dan bukan angkringan modern yang biasa aku dan teman – temanku makan, seperti angkringan pulpi atau angkringan van java. Rasanya nikmat. Rasanya lebih merakyat. Rasanya lebih dekat. Dengan makanan yang sederhana dan hanya dengan nasi porsi kecil beserta teh panas yang kental. Angkringan yang nikmat. Tapi aku kadang bertanya – tanya. Apa memang wanita sepertiku tidak cocok berada di tempat seperti itu sendirian? karena nyatanya hanya ku sendiri satu satunya perempuan. Berjilbab pula. Kebanyakan orang yang datang adalah para lelaki dan bapak – bapak. Padahal aku ingin berlama – lama duduk disitu dalam kesendirianku. Makan diatas gerobak penjualnya dan ditemani lampu dari “teplok”. Rasanya benar – benar lain. Tapi sepertinya alam tidak mengijinkanku berada disitu lama – lama. Karena semakin banyak pengunjung laki – laki yan berdatangan. So, kenapa perempuannya hanya aku? apakah memang aneh? Mungkin tidak wajar saat perempuan sendirian nongkrong di angkringan.

Entah apa itu yang jelas aku suka makan di angkringan. Suasananya yang sederhana, syahdu, dan begitu nikmat tanpa kebohongan. Aku rindu makan diangkringan lagi. Cuma dua kali aku makan diangkringan. Dan sekarang aku ingin lagi. Angkringan yang membawa suasana berbeda.

Yogyakarta, 12 April 2012

Aku kembali makan sendirian di Angkringan. Kali ini aku memilih angkringan yang dijaga oleh perempuan. Aku menemukannya di daerah maliboro, dekat keraton. Rasanya lebih leluasa saat makan disana. Aku jatuh cinta pada angkringan. Unik. Tapi aku tak bisa berlama lama disana. Aku perempuan. Aku rasa angkringan telah penuh dengan para laki laki. Dan itu tidak baik untukku yang sendiri. Baiklah aku menyerah, dan aku makan dengan lahap, lalu pulang.

Yogyakarta, Juli 2012
Jangan pernah lagi nongkrong di angkringan kopi joss sendirian. Kopinya nikmat, tapi suasananya yang tak nikmat. Pelajaran berharga, dan harus tau tempat dan kondisi. Malam ini dingin, terdengar deru suara kerete yang memecah malam dengan lampu lapu yang menyala di sudut kota jogja paling terkenal, malioboro. Aku sendiri menikmati kopi joss yang hanya ada di kota seni ini. Tapi ada yang membuatku merasa harus buru buru menghabiskan kopi dan beranjak pulang. Karena ternyata ada laki laki tua memandangiku tajam, tak berkedip di ujung meja panjang tempat minumanku tersaji. Tak nyaman. Dan lalu aku harus buru buru kabur. Selamat malam angkringan. Pelajarannya : Jangan pernah lagi makan di Angkriangan sendirian. Tidak baik, apalagi untuk perempuan.

Yogyakarta, 13 November 2012
Aku kangen kopi joss, aku kangen makan di angkringan. Aku rindu sederhana bersama gerobak kayu yang menyejarahkan kota jogja. Tapi aku perempuan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s