Menulis

ImageSetiap orang pasti butuh menulis. SMS, pesan, memo, surat atau apapun itu. Tak hanya kalangan akademika saja yang harus bisa menulis, para penjual jamu, tukang beca, dan juru parkir pun perlu bisa menulis untuk membuat pesannya. Semua orang sebenarnya punya kemampuan untuk menulis. Hanya saja sejauh mana kemampuan itu diasah untuk membuat tulisan yang tak biasa. Menulis adalah kegiatan merangkai huruf menjadi sesuatu kalimat yang bisa dimengerti maknanya.

Sekarang waktuku belajar menulis. Aku sudah suka menulis sejak SD, waktu itu aku suka menulis di buku diary kecilku. Lalu semakin dewasa aku suka menulis banyak hal. Tapi tulisanku lebih banyak aku simpan sendiri. Dan sekarang, aku ingin belajar menjadi penulis. Bisa berawal dari menulis argumen, puisi, cerpen, atau tulisan bebas seperti ini. Menurutku, menulis adalah kegiatan menyenangkan dan menenangkan. Menulis itu tidak bisa bohong. Menulis itu jujur. And writing nourishes the spirit, membuatku merasa berkembang dan kadang malah bisa mengubah moodku. Seperti mensugesti diri. Aku sering melakukan ini terhadap diriku sendiri. Ketika sedang down, badmood, atau tidak bersemangat aku akan menulis sesuatu dikertas, di tissue, di HP, dan aku akan menceritakan apa yang kulakukan apa yang kurasakan, dan tiba tiba tulisanku akan berisi kata kata penuh semangat. Yaps, pada dasarnya aku sedang membawa diriku up. Tanpa kusadari itu.
Tapi ternyata menulis juga tak semudah yang ku banyangkan, apalagi menulis essay, cerpen, atau novel. Dalam waktu dekat ini aku sedang belajar menulis novel. Tanpa kusadari ternyata aku bisa menulis lumayan banyak dalam satu file satu baba satu tema dan satu cerita. Ini menjadi semangatku, proyekku, latihanku. Dan sekarang aku tengah mengalami kebuntuan menulis. Kata kata dan cerita itu menari nari dikepalaku. Tapi saat aku menghadapi laptop, seketika pikiranku menjadi penuh dan berhenti. Aku tak menuliskan apa apa pada akhirnya. Dan aku tidak menulis.
Hal seperti ini wajar dirasakan seorang penulis. Kata Putu Wijaya “kreativitas itu harus diperkosa”. Kita harus melatih rasa, dan sense untuk menulis. Saat buntu, cobalah untuk menulis apapu yang ada difikiranmu, lalu akhirnya akan tiba pada satu hal yang diinginkan. The important thing is to keep going.Yang terpenting adalah aku tetap menulis dan jangan pernah lari dari kebuntuan. Jalan sempit dan berkelok kelok itu adalah jalan orang jenius. Hanya butuh lebih keras lagi untuk bisa melewati titik buntu ini. 
Menulis fiksi ataupun ilmiah bagiku sama sama menyenangkan. Sama sama butuh krativitas, sama sama susah dan sama sama gampang.

Menulis itu berbagi. Berbagi kasih, berbagai inspirasi, berbagi pengalaman, berbagi pikiran. Thingking about writing or talking about writing or worrying about writing is not writing. Writing is done writing.
Gerald Brenan pernah bilang ” Awali setiap pagimu dengan menulis, itu akan membuatmu jadi penulis”. Dan aku juga pernah baca, para penulis muslim biasanya meraka menulis saat selesai solat subuh. Itu waktu yang baik untuk menulis.

Writing is a craf, menulis itu butuh keahlian. Untuk menjadi ahli itu butuh latihan, Latihan itu butuh kebiasaan. Kebiasaan itu butuh sering melakukannya (konsisten)

So, let’s just writing
Bismilllah. Semoga aku akan tetap konsisten menulis…Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s