Social act with Gadjah Mada Mengajar

Blora,

Nama sebuah kabupatendi Jawa Tengah yang kalah pamor dengan kecamatannya yaitu Cepu atau blok cepu yang terkenal sebagai penghasil minyak. Di ujung Blora, jika melihat makin dalam akan ada sebuah dusun kecil bernama Alasmalang. Dusun kecil yang berjumlah 120 KK. Alasmalang terletak jauh dari perkotaan dan pusat perekonomian. Jauh dari pasar, dari warnet, dari jalan raya. Perjalanan kesana dari jogja membutuhkan waktu setidaknya 6 jam. Kami berangkat hari Rabu jam 9 malam. Sampe disana jam 3 malam. Dari jalanan kota yang mulus, jalanan bergelombang, jalanan berkerikil, hingga jalanan berlumpur. Semua menjadi tantangan dan proses tersendiri. Perjalanan ini Allah hadirkan dalam perjalanan hidupku dengan indah. Aku bersyukur pernah hadir disana. Bersama mereka anak anak Alasmalang.

Kami hadir atas nama sebuat komunitas sosial bernama Gadjah Mada Mengajar. Dalam tim ini ada aku, mba danur, mas dama (Isdhama Miswardhana) mas Aul (Aulia Muhadi) dan  mba Sato (Satonah). Kami menjadi keluarga kecil yang tiba tiba tinggal serumah tanpa sebelumnya saling kenal. Aku paling muda diantara yang lain, dan aku mungkin juga paling gaul diantara yang lain. Mereka adalah ikhwan dan akhwat, sedangkan aku perempuan nyentrik dengan gaya sesukanya. Paling bandel, bisa dibilang seperti itu.

Perjalanan ini adalah pembelajaran tentang banyak hal. Baik secara fisik ataupun psikis. Dari kubangan jalanan yang membuat kita tertahan di dalam kubangan yang lebih pantas disebut selokan karena saking dalamnya. Belum lagi perjalanan masuk hutan dengan tumbuhan berduri dimana mana. Mereka berebutan untuk menggores cat mobil kami. Batu jalanan seperti ajang goyang mobil dan melatih skill driver kami, mas Dama. Belum lagi, ditengah perjalanan berangkat aku beberapa kali muntah. Jadi terpaksa kita berhenti beberapa kali demi aku. Dan Masyarakat yang amat sangat menyambut kami dengan baik. Rasanya aku menemukan keluarga baru disana.

Alasmalang, tempat sederhana yang membuat rinduku tidak sederhana, karena aku sangat rindu.

Kami banyak mengadakan acara disana. Memberi sumbangan sepatu dari donator ke seluruh siswa di SD Temuireng 2. Melakukan solat Ied dan kurban 4 kambing dari orang di Yogyakarta. Memberi sumbangan buku untuk taman belajar di TPQ yang masih dalam tahap perkembangan, nonton film “Hafalan Sholat Delisa” bersama anak anak dan para orang tua di depan rumah, Mengajar TPQ, Penyuluhan tentang kurban dan masih banyak lagi. Menyenangkan. sangat menyenangkan. Pengalaman yang berharga.

Tiga hari disana seperti sudah lama, menghabiskan waktu dengan bahagia dan begitu dekat.

Anak anak Alasmalang punya semangat belajar yang tinggi. Dalam kesederhanaan fasilitas, ruang, dan tmpat yang membuatku merasa prihatin dan termenung saat petama kali tiba disana. Mereka kelas 1-6. Penuh mimpi, penuh harapan, penuh semangat. Sebelum sumbangan sepatu datang, banyak dari mereka sekolah tidak memakai sepatu. Baju sederhana, kulit kering, dan tas yang sudah banyak sobek dimana mana. Bangunan sekolah yang masih rapuh, beralas tanah, dan bangku yang hampir patah. Tapi semangat belajar dan ngaji mereka tidak terkalahkan oleh keadaan. Aku lihat semangat ceria dari mata para anak anak kecil ceria itu.

_Ada perempuan kecil bernama Ngatini. Dia kelas 6. Tiba tiba dia menangis saat kita suruh membuat pohon harapan. Kami bertanya tanya, Lalu kami mencari tau dari pemilik rumah yang kita singgahi yang juga merupakan guru di SD itu, namanya pak Harto. Kata beliau, Ngatini mengalami sedikit disorientasi, minder karena dia merasa bodoh. Secara fisik dia memang yang paling besar diantara teman temanya. Aku mencoba mendekatinya. Hingga waktu perpisahan datang, aku menuliskan sebuah pesan di bukunya. Dia memintaku. Dia menangis saat harus mengucapkan kesan di depan kelas. Aku bisa merasakannya. Rasanya aku ingin sekali memeluknya erat dan mengatakan padanya, “jangan takut sayang, jangan takut, jangan menyerah, kamu bisa pasti bisa” seperti apa yang telah aku tuliskan di bukunya. Aku berdoa semoga Allah memudahkan jalan hidupnya, memudahkan pemahamannya. Salam rindu untuk Ngatini di Alas Malang_

Kapan aku bisa kesana lagi?

Dalam perjalanan ini aku tak hanya belajar dari masyarakat, dari anak anak, tapi juga teman satu tim. Kita banyak membicarakan politik kampus, isu kenegaraan, kepemimpinan, akhlak, fiqih, dan kepribadian. Obrolan yang jarang aku temukan adalah obrolan politik kampus. Kebanyakan mereka adalah petinggi di BEM KM UGM. Jadi gak heran kalau mereka mengerti betul untuk urusan itu. Bagiku ini hal yang jarang dibicarakan. Aku juga belajar tentang agama. Mengajar di TPQ membuatku sadar, bahwa aku masih cupu banget untuk soal mengaji. Membuatku tersadar, aku butuh banget untuk belajar tajwid bacaan Alquran.

Alasmalang, Kebanyakan rumahnya tersusun dari kayu jati. Jarang sekali yang menggunakan tembok. Akses masuk yang sangat susah. Mungkin ini penyebab kurang majunya tempat ini. Perlu berkilo-kilo meter untuk sampai di tempat yang bernama pasar. Air disana juga agak susah, beruntungnya kami ditempatkan di rumah yang paling bagus di tempat itu, mungkin beliau juga orang paling kaya di Alasmalang. Air di rumah tinggal kami tersedia cukup. Jika musim hujan datang, jalanan sudah tidak bisa dilewati mobil. Hanya pejalan kaki dan sepeda motor yang bisa melewatinya. Tapi tetap saja, mencuci motor adalah hal yang sia sia disana.

Pagi itu, hari sabtu jalanan becek karena terisi genangan air hujan yang datang malam tadi malam. Pak kepala sekolah datang dengan kondisi baju terikat dimotor, tidak memakai sepatu, roda motornya sudah penuh dengan lumpur. Dan beliau berkata “ saya jangan difoto ya” aku tertegun. Hoo, beliau seperti habis pulang dari sawah. Tapi beliau datang dari rumah untuk mengajar disekolah. Aku hanya tertegun terpaku dengan kamera ditanganku melihat beliau berlalu kesumur dan sepertinya beliau mandi dan bersih bersih. Subhanalllah…

Belum lagi bicara soal gaji. Guru disana kebanyakan adalah guru honorer. Gajinnya hanya 150 rb perbulan. Aku tidak bisa berkata apa apa. Yang aku rasakan adalah “aku ingin menjadi orang sukses dan kaya, lalu aku akan membantu membangun Indonesia menjadi negara yang lebih maju, dan peduli pada orang orang seperti mereka”.

Bagiku, tiga hari tiga malam itu, membuatku banyak belajar. Belajar bersikap, belajar menghargai, belajar peduli, belajar untuk bersikap lembut. Dan belajar dewasa.

Awan itu hadir menyendiri dilangit yang jauh

Dilangit blora aku tlah tau, semasa yang singkat

Anak anak kecil berlarian kearahku, senyum tersungging tak pernah hilang

Diam, dan bermimpi

Berlari dan menyalami tanganku hingga aku tampak bergetar, Hatiku penuh

Bahagia yang tak terukur

Elok,

Seperti mimpi bisa hadir dekat di hati mereka

Mereka juga sama

Menceritakan cita dalam senandung tawa yang renyah disuatu senja

Ternyata sekarang aku rindu,

Belajar mengaji, belajar membaca, menulis, dan bernyanyi di bangunan sederhana itu

Sekolah dan madrasah tempat kalian, Alasmalang

This slideshow requires JavaScript.

6 thoughts on “Social act with Gadjah Mada Mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s